Tampilkan postingan dengan label Islamedia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamedia. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Oktober 2016

Cobalah Jadi Aku, Dan Ketahuilah Ada Rasa Yang Sama Seperti Beratnya Menunggu

Untukmu yang masih menunggu dengan penuh kesabaran, semoga Allah memberikan yang terbaik atas segala pengorbananmu. Usahamu untuk terus memantaskan diri, menjaga hijab, dan memperkokoh keimanan membuatku semakin yakin kamu adalah takdirku. Walau sejujurnya, mungkin diri ini masih belum pantas untuk menjadi imammu. Tapi aku terus berusaha untuk itu, untukmu, untuk kita. 


Aku memahami setiap air mata yang akau teteskan, entah kenapa begitu amat pedih yang aku rasakan. Sampai saat ini menjadi seorang pria yang penuh dengan kegagalan, mungkin tidak layak untuk diperjuangkan seperti ini. Aku yang masih berusaha bangkit dari titik nol, berusaha tidak menghiraukan apa kata orang. Karena hanya diriku yang tau apa yang harus dituju, berserta seriko yang harus dihadapi.




Kuliahku terbengkalai dan bisnisku hampir hancur, adalah salah satu harga yang harus aku bayar untuk itu. Dengan keadaanku seperti ini, apakah kau masih bersedia untuk menungguku. Menunggu pria yang entah akan seperti apa hidupnya. Tapi yang pasti, tugasku adalah memastikanmu hidup bahagia. Tidak akan ada lagi air mata yang menetes dengan senyum simpul yang selalu mengembang.


Kita yang disibukan dengan kegiatan masing-masing, bersyukurlah karena Allah masih menjaga diri dan hati kita. Walau sejujurnya, rindu ini tidak bisa aku tahan karena ingin bertemu dengan pemiliknya. Tapi apa daya, aku yang hanya bisa menyebutmu dalam doa. Semoga bisa secepatnya datang kerumahmu untuk bertemu dengan ayah dan ibumu.
Kau tidak harus tau bagaimana beratnya  memperjuangkanmu, yang kau harus tau adalah aku disini mencitaimu. Walau bibir ini tidak pernah bicara begitu, tapi aku yakin hatimu tau apa yang sedang aku rasakan. Dan semoga seperti itu.

Sugguh tidak nyaman, berjuang sendirian dengan banyak tekanan. Tapi ini lebih baik, daripada ada penyesalan di saat tua nanti. Ini pilihanku pada waktu itu, sama halnya dengan aku memilihmu dan bertahan sampi sekarang. Aku yakin bisa melalui ini dengan cepat, semoga waktu memberi kesempatan untuk kita bisa bersatu. Semoga perjuangan kita tidak sia-sia, memperjuangkan sesuatu yang seperti tidak ada. Padahal nyata.
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/cobalah-jadi-aku-dan-ketahuilah-ada.html

Jangan Diam Terus, Ini Saatnya Kamu Mencari Jodoh!

Semua orang pasti memahami arti ‘cinta’. Karena cinta adalah satu kata yang tidak pernah lepas terpikirkan, tidak pernah absen dalam perbincangan. Tidak juga datang dan pergi dengan peringatan. Ungkapan “Jodoh di tangan Tuhan” itu memang benar adanya. Karena takdir kita sudah ada yang mengatur. Dengan siapa kelak kita akan hidup bersama sudah digariskan oleh sang Maha Kuasa. Tapi meski pun kita percaya bahwa jodoh kita ada yang menentukan, bukan lantas kita hanya pasrah dan menunggunya.  


Tidak, tidak seperti itu, Itu namanya kita tidak mau berusaha. Jodoh itu bukan untuk ditunggu, tapi ditemukan. Siapa yang menemukannya? Tentu saja mereka yang telah berusaha mencarinya.



Apa itu Mencari?
Mencari, tidak berarti kamu harus berlarian untuk menemukannya. Yang dimaksud dengan mencari di sini ialah memperbaiki dirimu. Mencari di mana yang harus diperbaiki dalam dirimu. Entah itu sikap atau keimanan. Karena apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri itu berarti kamu sedang mempersiapkan seperti apa calon yang ingin kamu temukan. Karena apa yang akan kamu dapatkan akan setimpal dengan apa yang kamu telah kamu usahakan. Bukan kah usaha keras tidak akan pernah membohongi?

So, tidak usah terburu-buru untuk segera menikah. Jodoh itu datang seiring dengan siapnya dirimu. Siapkan dirimu sebaik mungkin untuk jodoh yang baik pula. Semangat!
 http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/jangan-diam-terus-ini-saatnya-kamu.html

Ikhlas Cintamu Meyakinkanku, Bahwa Jarak antara Kita Berdua Ini Pasti akan Terhapus

Sore ini cerah, secerah saat kita berdua dipertemukan setelah dua semester kita diuji jarak. Bus sekolah kuning pucat yang gagah ini, dengan para penumpangnya yang terlelap nyenyak, atau sibuk dengan ponselnya, mendengarkan lantunan musik lewat sepasang earphone-nya dan juga sepasang muda yang girang bercengkrama tentang kemudaan, selalu senantiasa mengantarkanku ke kampus gudang ilmu. 


Semua menjadi pemandangan rutin dalam sekotak kendaraan beroda 4 ini. Aku yang berdiri tepat di pintu bus, hanya mampu menikmati biru langit dengan vertikal hijaunya jejeran pohon rindang lewat kaca jendela yang mengernyit saat melewati jalanan yang ‘tak rata. Sinar matahari senja yang berani menerobos kaca-kaca bening ini, menyapa wajah lelahku, membuatku menutup mata sejenak, membiarkan ia menghangatkanku.





Dalam pejam netra sekejapku, sosokmu kembali muncul. Suara tawa ringanmu saat itu, tatapan tajam sepasang bola matamu dan lambaian tangan itu, semua mengacaukan batas antara kenangan dan kenyataan. Menguatkan dan melemahkan dalam satu saat yang bersamaan.

Saat dimana aku merasa punya segalanya namun aku berupaya beranjak menjauh dari itu semua. Saat dimana aku ingin menolak apa yang selama ini aku panjat doakan. Berat langkah kakiku menuju. Berat tatapan mataku beralih adu. Hingga basah terasa di ujung mata sayu, menyadarkanku bahwa aku telah ‘tak lagi di situasi itu.

Garis cakrawala samar terlihat mencoba melawan lekuk menawan siluet pemandangan senja sore di langit negara matahari terbit ini. Jauh kumelihat di balik tipis pembatas dunia itu, “Sedang apa kau disana?” Tanyaku lirih.


Liku labirin waktu dan jalan terjal telah kita lalui. Suka senang, gelak tawa, rindu kepercayaan, saling dukung dan topang, canda tingkah polah laiknya bocah, amarah, dendam, cemburu, curiga, selingkuh, khianat, diam, hilang perhatian, lupa janji jenuh akan diri masing masing, semua kita cicipi, kita rasai. Merusak dan saling memperbaiki. Terputus lagi dan saling menyambung diri. Menghilang dan saling menemukan. Melemah dan saling menguatkan. Meninggalkan dan saling menantikan.
 
Tanpa sadar, kubelajar akan makna kesetiaan yang selama ini aku ‘tak tahu menahu indahnya itu, semua darimu. Meski melibatkan banyak kaummu dan kaumku sebagai peran penting di setiap sekuel lembar cerita roman kita. Darimu, aku belajar menghargai sesuatu yang ‘tak bernilai menjadi sesuatu yang tak ternilai.


Setiba di halaman sekolah, kuambil sepedaku yang tangguh, ku kayuh ia mengantarku pulang ke peraduan. Kini ku bisa merasakan asli sepoi angin senja hari. Sambil mendengarkan lagu kesukaan kita, kembali kunikmati sosokmu yang ‘tak lebih dari bayangan semu.


Silau cahaya senja dengan lugas menerpa semua bagian tubuhku, memaksaku untuk sedikit menyipitkan sepasang mata kecil ini, ah…semua ini terlalu indah kulalui tanpamu, gumamku. Sempat terpikir andai bisa kucuil senja yang romantis ini, kubungkus dan ku bawa terbang untuk kupersembahkan padamu. Hingga bisa menciptakan bayang sosok kita berdua.

Wajah-wajah pribumi mengisi pemandangan sepanjang jalan kembaliku. Segala gurat garis di paras mereka, menyadarkanku bahwa kini ku ‘tak lagi membutuhkan cermin waktu untuk ku mengetahui pantulan usia dan beda dalam setiap jiwa yang hidup. Mengingatkanku, bahwa ‘tak lama lagi angka usia ini bergeser.


Dan untuk kedua kalinya, akan kulewati tanpamu, di sini. Meski kutahu kita saling meluangkan waktu di satu malam, untuk menyebut nama masing-masing dalam lantunan doa yang seakan menghapus jarak samudera liar di sana.


Kasih, tahukah kau? Ikhlas cintamu yang ‘tak berkemas indah dan menawan, namun rasa tunggal itu telah selalu menghantarku sebatang kara ke negeri sebrang ini. Meyakinkanku, bahwa sederhana rasa kita memegahkan segala usaha jerih payah. Memantapkanku, bahwa jauh jarak ini terasa terhapus berkat gigih perjuanganmu merangkulku dengan keanggunan tingkah laku kelelakianmu.


‘Tak seperti Chairil yang mengurungkan niat ungkapkan rasa saat ia jatuh cinta pada Sri Ayati di masa mudanya, kepribadianmu yang latif nan lembut dalam memperlakukan ku sebagai perempuan terindah, membuatku merasa sangat beruntung dilahirkan sebagai kaumku, dan Sri Ayati ‘tak seberuntung aku di masanya.

Ujian bertubi ‘tak lelah berhenti, menerpa niat istiqamah ini. Namun yakin diri berikrar, cambuk ruang dan waktu ini menguatkan semua yang rapuh dan ragu. Memondasi dan saling memperbaiki. Meniang kokoh dan saling mempercayai. Menembok rapat dan saling menjagai. Mencipta atap dan saling melindungi.


Kasih, tunggu aku di situ. Kelak ku akan kembali ke rangkul hangatmu dan gores seribu kisah anyar nan apik di tiap lembar perkamen roman kita, dan hanya kita. Cengkrama deretan huruf berjejer kita, bak rantai yang menembus bingkai jarak, erat saling mencengkram, ‘tak berjarak ‘tak berputus.
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/ikhlas-cintamu-meyakinkanku-bahwa-jarak.html
 

Atas Nama Ketidakberdayaan, Kita yang Tak Seiman Harus Saling Melepaskan Genggaman

Aku tidak tahu sejak kapan keresahan itu melanda jiwa kita. Jarum jam yang melaju kita lewati dengan langkah yang ragu-ragu. Ada semacam rasa khawatir luar biasa yang tak kunjung reda di dalam dada: Perbedaan kita, mampukah kita buat tiada? 
 
 
Kita sama-sama tahu, bahwa saat ini kita hanya menjalani kebersamaan semu yang terlalu rapuh. Sebab, suka tidak suka, mau tidak mau, kita akan sampai di persimpangan yang memaksa kita untuk mengambil jalan yang berlainan. Bukan berdampingan. Sebab, dalam perbedaan kita, terkandung janin perpisahan yang bisa lahir kapan saja tanpa kita bisa menolaknya.
 
 
 
 
Harusnya kita bersyukur atas pertemuan ini. Tapi mengapa Tuhan menuliskan takdir dengan akhir yang getir?
 
 
Aku takut. Kamu juga kalut. Kita mendadak menjadi manusia yang pengecut. Masing-masing dari kita mulai menyalahkan pertemuan yang menciptakan cinta dan luka dalam satu paket yang sama. Tapi, bukankah menyalahkan pertemuan berarti juga menyalahkan Tuhan? Dan itu bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan oleh manusia seperti kita.
 
 
Justru seharusnya kita bersyukur atas pertemuan yang telah diciptakan oleh tangan yang Maha Kuasa. Sebab pertemuan kita telah merajut hal-hal indah yang kelak akan kita kenang dengan senyuman. Meski begitu, barangkali tetap ada hal yang sangat disesalkan: Mengapa Tuhan juga menuliskan takdir dengan akhir yang getir?
 
 
Kata mereka “Amour Vincit Omnia”. Bahwa cinta mengalahkan segalanya. Tetapi bagi kita, cinta begitu tak berdaya ketikas berhadapan dengan satu kenyataan Tuhanku dan Tuhanmu berbeda.
Kita mengerti tidak ada pertemuan yang berjalan abadi tanpa ada perpisahan yang kelak terjadi. Mungkin, bukan kehendak Tuhan untuk mempersatukan setelah mempertemukan. Dan kita yang tak punya daya tak lagi bisa berbuat apa-apa selain dengan tega membunuh cinta atas nama ketidakberdayaan jiwa.
 
 
 
Mungkin yang mereka katakan itu benar adanya. Cinta yang terpaut perbedaan iman adalah sebuah ujian.
 
 
Sejak awal, kitalah yang terlalu egois. Memaksakan diri untuk saling menautkan hati meski kita tahu ada batas yang tidak akan mampu kita lalui. Lantas atas nama perasaan yang berbunga-bunga kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Hingga kita sampai pada waktu di mana kita sadar, bahwa kita tidak bisa selamanya menipu diri. Bahwa kita butuh kepastian.
 
 
Kita yang terlanjur berbeda akan membawa cinta ini kemana? Aku yang berlari menujumu, atau kamu yang mengikutiku? Walau bagaimanapun juga, kebersamaan kita terlalu rapuh. Tetapi kita belum siap untuk menjauh.
 
 
Jika kita mau jujur, cinta yang kita coba pertahankan tak kan sebanding dengan cinta yang Tuhan kita berikan. Mungkin benar apa yang mereka katakan, bahwa cinta yang terpaut perbedaan iman adalah sebuah ujian apakah kita lebih mencintai Tuhan atau justru berbalik meninggalkan.
 
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/atas-nama-ketidakberdayaan-kita-yang.html

Aku Masih Bernafas Meski Tanpamu, Karena Mencintai Diriku Sendiri itu Lebih Penting dari Apapun

Dia, merajut memori dalam diam. Kesunyian ini begitu memekakkan telinga. Dalam hati, mengetahui secara pasti bahwa kenangan hari ini akan menjadi satu lagi ingatan traumatis. Ia hanya diam dan aku menoleh. Bagaikan bernafas dengan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.



Hatinya seluas samudra. Awalnya, aku jatuh cinta dengan dengkuran lembut dan detak jantungnya yang begitu hidup dan begitu dalam. Baru kusadari betul bahwa aku bukanlah satu-satunya ikan di zona neritiknya.


 
 
Aku tahu betul, sejak aku berusia 5 tahun bahwa mencuri mainan dari anak lain bukanlah hal yang terpuji. Mainan pertama yang kucuri dari temanku adalah boneka anjing yang sudah bau lembab. Aku tidak pernah mencuri mainan yang masih baru dan mengkilap. Begitu pula orang yang sekarang ini duduk di sampingku.

Entah sudah berapa banyak orang yang pernah menghirup aromanya di dalam mimpi indah yang tak berkesudahan. Entah seberapa banyak kartu As yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Entah sudah berapa kali kakiku melangkah maju hendak menutup halaman terakhir dari kisah cinta kita.


Apakah momen krusial ini menjadikanku orang yang buruk? Apakah rasa bersalah karena tidak meninggalkannya sejak awal akan menuai cemooh orang lain? "Tidak." Jawabku samar di antara lamunannya. Aku bergegas pergi dan pulang ke rumahku sendiri. Tersenyum tipis seperti hujan gerimis di siang hari yang terik. Lebih membenci diriku yang sekarang ini, memutar kembali miliaran ingatan seperti proyektor usang yang terbengkalai.


Telepon genggam bergetar dalam saku jaketku. Sepuluh pesan masuk kudapati dari sahabatku. Tidak ada satupun pesan dari dirinya. Aku masih berharap. Pukul sebelas malam. Aku masih berharap. Tengah malam lewat lima menit. Aku masih berharap. Pukul tiga subuh, mataku belum terpejam.
Pertengkaran kami seabstrak lukisan Picasso. Aku masih mengharapkannya memecah kesunyian di tengah perang dingin ini. Berharap dia akan membuat lelucon garing khas dirinya.


Diam sejenak, aku merasa bahwa rohku mengapung di dalam kesepian yang absolut. Aku tertidur setengah jam kemudian.
 
Aku terbangun pukul tujuh pagi. Menatap layar handphone yang berpendar. Dua puluh pesan selama aku tertidur pulas. Semuanya dari sahabatku. Aku bergerak malas dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurku. Membaca semua pesan yang tertinggal dari para sahabatku. Seketika aku merasa lega. Aku bernafas pelan. Seumur hidupku, belum pernah diriku merasa serileks ini.


Ibuku memberiku roti tawar untuk sarapanku. Ayahku meminum secangkir kopi pahit tanpa gula. Kakak-kakakku bersenandung pelan dan menggosok gigi di wastafel. Aku termenung sembari mendengar irama hujan yang terdengar seperti ratapan. Mereka menanyakan keaadanku. Teman-temanku tidak berhenti mendengarkan celotehanku. Aku kembali ke kamarku sendiri, mengambil pena dan menulis lagu diatas kertas bergaris.

"Apa kabar?" Pesannya muncul di layar handphone. Aku tidak membacanya. Aku meneruskan tulisanku. Aku tidak pernah merasa sebersyukur itu dalam hidupku. Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Teman-temanku menopangku dengan nasehat dan candaan mereka yang efektif membuatku bangkit dari kesedihanku. Mereka tidak mencelaku.


Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Keluargaku mengisi hari-hariku. Dalam hati berjanji bahwa aku tidak akan lagi mengejar ilusi. Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Lirik demi lirik yang kutulis, akord dari laguku yang kususun melalui gitar akustikku yang berusia 6 tahun. Seniman hebat yang menginspirasi diriku melalui karya mereka.

Aku masih bernafas.
Aku masih bernafas.
Aku masih bernafas.
Mungkin memang tidak semua cerita cinta berakhir bahagia. Sejak awal aku tidak pernah ingin tahu apa yang terjadi di novel The Notebook. Mungkin memang tidak semua cerita cinta berakhir tragis. Tirai tidak pernah menutup di dunia nyata. Dengan kekuatanku yang baru, aku bergegas menyisir rambutku dan memakai setelan terbaikku.


Kami pernah saling mencintai. Kami pernah mengalahkan dunia bersama-sama seperti dalam film superhero. Rasa benciku kepadanya sebesar rasa cintaku kepadanya. Namun apa yang bergerak pergi tak bisa kita dihindari.

Aku belajar bahwa mencintai diri sendiri dan mencintai apa yang kita miliki jauh lebih penting dibandingkan menginginkan bintang yang terlalu jauh untuk diraih. Aku belajar bahwa kesalahanku tidak menjadikanku orang yang buruk. Aku belajar bahwa hati manusia tidak akan pernah terlalu besar untuk memaafkan. Aku belajar bahwa kita tidak akan bebas dari masalah hidup. Dengan mantap, aku mengambil langkah kecil namun pasti.
Aku masih bernafas.
 
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/aku-masih-bernafas-meski-tanpamu-karena.html
 

Cemburu itu Sulit Untuk Dijelasin, Rasanya Sedih, Nyesek Dan Cuma Bisa Dirasain Dan Dipendam

Kecemburuan lahir karena adanya rasa memiliki dalam diri masing-masing. Ketika orang yang kita sayang memberikan perhatian kepada orang lain, rasa cemburu itu akan muncul. Dalam batas-batas tertentu cemburu itu memang perlu untuk menunjukkan adanya rasa cinta. 


Tapi sungguh rasanya cemburu itu tidak enak meskipun tidak dimakan. Karena membuat kita tidak bisa mengendalikan diri. Rasa cemburu ini akan semakin meledak-ledak kalau dia malah gak peduli kalau sebenarnya kita sedang mersa cemburu. Aku benci mersa cemburu, karena membuatku membencimu lalu semakin mencintaimu melebihi hari sebelum-sebelumnya. Kamu juga tahukan bagaimana rasanya cemburu itu? Jika tidak aku ingin memberitahukanmu.


Beginilah Gambaran Singkat Rasa Cemburu yang Sangat Susah Untuk Dijelasin Itu
 
Memang sulit untuk menceritakan tentang rasanya cemburu itu seperti apa. Tetapi biasanya akan timbul perasaan, Gelisah, Menyesal, Putus asa, Marah, yang bersatu menjadi satu rasa, yaitu rasa sakit. Saat cemburu dunia ini rasanya begitu sesak dan sempit dan tidak ada tempat yang nyaman nuntuk ditempati.

Aku Ingin Memberitahukanmu Begini Rasanya Kalau Aku Sedang Merasa Cemburu Padamu Semoga Enggkau Bisa Mengerti
 
Rasanya, sesak, sepi, tenang tapi galau. Lalu..? aku ingin melukaimu! tapi secara bersamaan aku ingin memelukmu. Setelah itu rasanya aku ingin berteriak di depan mukamu tapi secara bersamaan aku ingin menangis di bahumu. Rasanya aku ingin menyudahi hubungan ini tapi aku tidak bisa melepaskanmu.
Ada Kesedihan yang Begitu Mendalam Ketika Kamu Tiba-Tiba Mendiamkanku Seribu Bahasa Tanpa Alasan yang Aku Mengerti
 
Ketika kamu tiba-tiba mendiamiku karena tahu aku mersa cemburu, saat itu juga kesedihanku bertambah menjadi berjuta kalilipat. Marah, malu, ingin bertanya, tidak percaya tapi butuh kejelasan. Dijelaskan tapi tetap tidak percaya seperti itulah rasanya saat kamu tiba-tiba diam ketika aku mersakan cemburu

Entah Cemburu Buta dan Karena Memang Ada Sebab Rasa Cemburu Itu Sama Saja Rasanya Tak Ada Bedanya
 
Tidak peduli aku yang terlalu berlebihan atau memang aku melihat kamu sedang berjalan, tersenyum dan memberikan perhatian pada orang lain, rasa cemburu itu sama saja. Sama-sama sakit dan begitu menyiksa dan terus membuatku ingin marah-marah dan marah lagi. Hatiku begitu sakit ketika mendengarmu berbicara bersama orang lain. Detak jantungku bertambah cepat ketika melihatmu lewat di hadapanku. Darah ini rasanya bergerak cepat ketika aku tahu kamu tertawa dengan seseorang yang bukan diriku. Cemburu itu tidak mengenal jenis yang pasti rasanya sama-sama sakit, kecewa dan segalanya yang menyakitkan.

Namun Rasa Cemburu Itu Terasa Semakin Tajam Mengiris Hati Ketika Aku Tidak Dapat Memberitahukanmu Kalau Aku Merasa Cemburu Padamu
 
Ketika rasa cemburu itu datang aku sangat ingin segera memberitahukanmu, aku sangat ingin kamu tahu kalau aku tidak suka kamu melakukan hal-hal yang bisa membuatku mersaku cemburu dengan harapan kamu akan berhenti tidak melakukannya lagi. Jumlah rasa sakit itu seolah semakin bertambah meningkat tanpa bisa dihentikan saat aku tidak bisa memberitahukanmu jika aku sedang mersakan kecemburuan.

Sebenranya Aku Sangat Ingin Kamu Menenangkan Perasaanku Saat Aku Merasa Cemburu
 
Memberitahukanmu jika aku sedang mersa cemburu sebenarnya aku juga sangat ingin kamu menenangkan hatiku, meyakinkan hatiku bahwa kecemburuan itu tidak benar dan dihatimu hanya ada aku saja. Aku sangat ingin kamu mengatakan hal itu jika aku sedang merasakan kecemburuan.
 http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/cemburu-itu-sulit-untuk-dijelasin.html

Kalau Tidak Benar-benar Mencintaiku Tolong Jangan Beri Aku Harapan

Bagimu mencintai mungkin adalah sesutu yang sederhana tapi aku tidak seperti mu bagiku mencintai seseoran itu tidak sederhana dan tidak sesederhana seperti kamu mencintai diriku atau mungkin orang lain. Bagi kua atau mungkin bagi sebagian besar wanita ini segala sesuatu yang dilakukan pada pria itu adalah bentuk dan wujud dari cinta mereka pada orang yang dicintai. 


Banyak wanita termasuk diriku berbuat baik memang karena pada dasarnya ingin membantu, tapi baik karena benar-benar ingin membantu dan baik karena cinta itu berbeda. Memperlakukan orang karena cinta dan rasa kemanusian itu tetap berbeda dan dapat diberbedakan. Padamu aku baik karena memang atas dasar kemanusian dan atas dasar aku mencintai kamu tapi pada mereka aku baik bukan karena cinta hanya atas dasar kemanusian.


Tidak bisakah kamu membedakannya? Atau mungkin kamu sebenarnya tau tapi pura-pura tidak tau karena mersa butuh pada ku atau karena ingin mepermainkanku. Padamu jika memang kau tak benar-benar mencintaiku tolong jangan beri harapan apapun padaku.

Aku Butuh Kejelasan Tentang Hubungan yang Sedang Kita Jalani
 
Selalu bersama dan merasa bahagia disampingmu rasanya tidak cukup bagiku sebelum aku tau apakah kamu sama sepertiku menginginkan kamu sampai kita bisa membangun keluarga kecil yang akan membuat kita tertawa bahagia dan sedih bersama.

Sikapmu Membuatku Memaknai Kamu Masih Menginginkanku
 
Jika kamu masih sama memperlakukanku dengan baik dan penuh perhatian itu tetap saja membuat diriku memaknai kamu tetap memberi harapan padaku. Aku tidak bisa mundur dari mencintai kamu jika kamu masih bersikap baik padaku.

Beritahu Aku Jika Hubungan Kita Akan Ada Masa Berakhirnya
 
Tak bisa mundur dari mencintai kamu itu tidak berarti aku tidak bingung dan bimbang dan bertanya-tanya apakah hubungan kita akan selamanya berjalan seperti ini atau berakhir dengan baik.

Jangan Ajak Aku Membayangkan Bahagia Jika Pada Akhirnya Tidak Bersama Kamu
 
Kau menjanjikan aku bayangan-bayangan bahagia, mengajakku bermimpi tentang banyak keindahan di masa depan tapi mengapa kau tak pernah berani dimana sebenarnya kamu berdiri. Aku tidak tau ajakanmu melihat kebahagian itu apakah hanya sekedar mengelabuhiku agar tak bertanya mengenai hubungan kita yang masih abu-abu.

Butuh Kejelasan Itu Tidak Berarti Kita Harus Segera Menikah
 
Mengapa takut untuk memperjelas untuk mengatakan ‘aku ingin menikahimu’, mengapa takut untuk ku pertemukan dengan keluargaku? Meraka tidak akan memaksamu sesegera mungkin menikahiku.
 http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/kalau-tidak-benar-benar-mencintaiku.html

Aku Bahkan Takut Menyakiti Kamu, Tapi Mengapa Kamu Memanfaatkan Cintaku

Aku tidak tau apa salahku pada kamu, aku tidak tau apa dosaku padamu. Yang aku tau aku jatuh cinta padamu, yang aku tau aku merasa nyaman bersamamu berbagi dengan mua. Tapi mengapa kamu begitu menakutkan, mengapa hatimu sekeras batu, mengapa hatimu tidak melunak dengan kebaikan dan ketulusan cinta yang aku berikan. 

Mengapa besar cinta dan ketulusanku untuk kamu bukan membuatmu iklas mencintaiku dan nyaman ada bersamaku. Kubantu sama-sama membangun masa depan mengapa malah membuatmu semakin sadis menyakitiku. Padahal selama bersama mu aku selalu mencoba mengerti, mencoba mengalah dan selalu mengerti kamu karena aku takut aku akan menyakiti perasaan mu.


Cinta Itu Menyakitkan Sebesar Aku Menginginkan Kamu
 
Tidakku sangka jatuh cinta pada mu itu menyakitkan, aku juga ak.tak pernah menyangka jika pada akhirnya aku akan sesakit ini karena menicintai kamu. Aku mengira pada akhirnya aku akan bahagia karena selama ini sekalipun kamu tak pernah menyakitiku. Tapi kenapa pada akhirnya kamu dengan mudahnya berpaling dengan mudahnya menyakiti.


Jatuh Cinta Padamu Aku Bahkan Sampai Lupa Pada Diriku Sendiri
 
Aku sibuk memperjuankan kamu dan masa depanmu, ku bantu kamu menata masa depanmu sendiri agar menjadi mapan, sampai-sampai aku lupa masa depanku. Kubantu kamu bangkit kembali dari setiap kegagalan yang kamu hadapi, aku bahkan berpura-pura tegar dan mengajakmu semangat kembali meski sebenarnya aku tidak yakin. Sengaja ku buat waktuku untuk lebih banyak bersamamu agar kamu tidak merasa terpuruk. Demi kamu bahkan aku rela meninggalkan keluarga dan teman-temanmu. Demi membantumu sengaja aku tak melakukan hal-hal yang ku suka karena ku pikir masa depanmu juga untukku.


Tak Ku Sangka Kamu Adalah Orang Jahat yang Mendebarkan Jantungku
 
Rupanya kamu hanya menggunakan topeng cinta untuk mendapatkan banyak hal yang menguntungkan bagi hidupmu. Rupanya kamu adalah orang jahat yang mampu berwajah manis. Tapi entahlah mengapa aku bisa tidak tau dan tak dapat melihatnya, entahlah aku juga tidak dapat mengira mengapa hatiku berdegub kencang saat melihatmu sampai-sampai sedikitpun bahkan untuk berhayal sesuatu yang buruk tentang kamu itu tidak pernah muncul dalam pikiranku.

Ternyata Kamu Masih Tidak Tau Cinta, Kamu Hanya Tahu Dirimu
 
Keliru sungguh aku keliru menyangka kamu adalah orang yang baik hati yang benar-benar mendekati diriku karena cinta, bukan karena apa-apa yang ada pada diriku. Kamu tidak pernah melihat cinta dalam diriku kamu hanya ingin memanfaatkan cintaku untuk dirimu. Kamu tidak pernah peduli dengan diriku kamu hanya peduli akan dirimu dan masa depanmu.

Aku Banyak Memberi Tapi Aku Tidak Menerima Apa-apa
 
Aku sadar dan pada akhirnya aku mulai banyak berhitung sudah berapa banyak yang telah aku berikan pada dirimu untuk membahagiakan kamu. Bukan hanya uang yang kubuang sia-sia kuberikan pada kamu, aku bahkan banyak membuang waktuku untuk melakukan banyak hal yang tidak kudapat untuk diriku sendiri. Aku banyak membuang banyak kesenangan dan ke sukaan ku untuk kuberikan pada kamu. Dasar memang kamu yang tak tidak pandai bagaimana harus berterimakasih.

 Sumber : http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/aku-bahkan-takut-menyakiti-kamu-tapi.html

Pergilah dan Berlalu. Kesetiaanku Terlalu Berharga untuk Pengkhianat Cinta Sepertimu

Kemana saja kamu selama ini? Setelah semua kekacauan yang kamu perbuat dengan mudahnya kamu menghilang tanpa jejak, tak ada kata maaf terucap untuk semua khilaf. Lalu setelah semua berhasil aku perbaiki dan kumulai mempercayakan diri untuk jatuh cinta lagi pada sosok lain tanpa malu, kau malah kembali. Kau kembali dengan alasan telah menyesali semua perbuatan dimasa lalu. Katamu, kau masih mencintaiku. 

Katamu kau tak bisa hidup tanpaku, tapi sampai detik ini kau masih saja hidup dengan baik-baik saja bukan? Dimana semua kata-kata yang kau ucapkan? Berjanji tak akan melukai dan mengkhianati. Tapi nyatanya kau bermain api dibelakangku. Dia kah yang lebih baik dariku? Dia kah yang kau sebut lebih mengerti kamu? Lalu kenapa kau sekarang datang lagi dengan menyesali semua perbuatanmu.



Dengarkan aku! Sekali lagi dengarkan baik-baik kataku! Tidak ada yang bisa dibenarkan dari semua perbuatanmu, terlebih kau memilih untuk berselingkuh dibelakangku, berbagi cinta dan mengkhianati aku. Tak cukupkah aku bagimu? Tak pantaskah aku mendapatkan kesetiaan darimu?
 
Telah kuserahkan semua yang menjadi milikku, bahkan hatiku telah kurelakan rapuh karenamu. Mataku tak pernah sekalipun berpaling memandang selain kamu, telinga ini tak pernah untuk mendengarkan selain suaramu, tanganku pun tak pernah menggenggam selain tanganmu. Namun aku tak bisa paksa kamu tuk tinggal di sisiku, kamu yang telah siksa aku dengan segala perbuatanmu.


Pergilah, pergi jangan lagi kau sesali yang terjadi karena aku bisa tanpa kamu. Tak usah kau ragu, aku rapuh tanpamu. Tapi bersamamu pun aku tak mampu jika masih saja kau berselingkuh.

Jadi lupakan aku, bawa kembali semua sesalmu dan ribuan maaf dari mulutmu. Aku ingin lebih baik tanpa kamu. Jangan lagi kau tawan hatiku, aku bukanlah budak cintamu. Bebaskan aku, biarkan aku kembali menemukan cinta selain kamu. Karena kau tak pantas bagiku.

Kesetiaanku terlalu berharga untuk pengkhianat cinta seperti kamu. Aku tak perlu lagi semua penjelasan darimu, karena semuanya sudah berlalu. Sudah ku maafkan semua kesalahmu, pergilah jangan ganggu aku.

Kini telah kutemukan dia sebagai penggantimu, dia yang mampu berjuang untukku, dia yang mampu meredakan luka hatiku karenamu. Dan dia bukanlah kamu, dia tak pernah berjanji untuk tidak melukaiku, dia juga tak pernah bersumpah mati untukku, bahkan dia tak mampu membawakan rembulan ke hadapanku. Tapi setidaknya dia tak sepengecut kamu, yang berani pergi membagi hati dan tega melukai. Dia tak sepertimu, semoga tak sepertimu.
 Sumber : http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/pergilah-dan-berlalu-kesetiaanku.html

Jarak Bukanlah Halangan Bagi Kita yang Punya Alasan untuk Bertahan

Aku meletakkan cangkir putih bercorak bunga sakura itu dan memandang ke arahmu yang sedang sibuk berkutat dengan laptop. Wajahmu terlihat sangat serius sembari membaca setiap email yang masuk. Berpikir sebentar lalu jari-jemarimu mulai merangkai kata. Sebuah senyuman kecil tersimpul di bibirku. Aku membatin dalam hati. Betapa tingginya tuntutan pekerjaanmu tidak menghalangimu untuk terbang menghampiriku di sini. Lalu, aku kembali menyeruput teh yang masih terasa hangat-hangat kuku itu. 
Tak lama kemudian, kamu menutup laptop dan melayangkan senyum lebar kepadaku diiringi dengan sebuah rangkulan kecil pada pundakku. Percakapan untuk saling bertukar rindu pun kembali dilanjutkan. Tatapan mata dan sentuhan yang tak dihalangi oleh jarak. Pertemuan yang setiap hari selalu aku nantikan.

Perjalanan asmara kita jelas memupuk rindu yang tak berkesudahan. Banyak tantangan yang mencoba keras untuk mendobrak masuk, menyelinap ke dalam, dan mengutak-atik kontak rasa antara kita. Sederet pengorbanan dan perjuangan terpatri hampir di setiap alurnya. Tapi, toh, kita tetap bertahan.


“Perjalanan ini memang tidak mudah. Tapi, hubungan ini memberikan pelajaran yang bermakna untuk kita.”

Kepercayaan menjadi tonggak utama yang menopang beratnya bentangan jarak antara kita.
Apa yang sedang kamu lakukan di sana? Dengan siapa kamu pergi? Aku hanya bisa berpegang pada setiap kata yang kamu utarakan. Ya, hanya itu saja. Begitu pun sebaliknya.

Kepercayaan merupakan fondasi dasar bagi kita untuk membangun hubungan ini dari bawah. Tanpa kepercayaan, semua ini tidak akan ada artinya.

Aku tak akan berbohong. Puluhan kali rasa curiga menyelimuti hatiku. Keraguan atas ucapan yang kamu sampaikan. Ketidakyakinan atas fakta yang tidak dapat aku lihat. Semua itu aku alami.

Tapi, percuma saja hidup dengan penuh ketakutan, bukan? Tak ada gunanya memelihara pikiran negatif dan membiarkan diri ini dilingkupi oleh kekhawatiran yang belum tentu benar. Jadi, tak perlu aku berasumsi dan menebak-nebak sesuatu yang tidak pasti. Karena segala sesuatunya akan terbukti sendiri suatu saat nanti. Saat ini, aku hanya perlu percaya saja.


“Membangun kepercayaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan menghancurkan kepercayaan itu hanya sesingkat sebuah kejapan mata.”

Sesibuk apapun aktivitas kita, komunikasi tetap harus terjaga. Hal inilah yang akan memperkokoh rasa antara kita.
 
 
Perbedaan aktivitas yang dijeda oleh jarak menjadikan komunikasi bukanlah perkara kecil. Ya, benar. Urusan sesederhana saling bertukar kabar bisa menjadi pemicu perselisihan yang berujung besar. Kesalahpahaman itu ibarat hal yang sudah lumrah terjadi.

Namun, aku dan kamu tetap harus saling mengerti. Toleransi dan saling menghargai perlu dijunjung tinggi. Segala ganjalan yang menggantung di dalam hati akan kita sampaikan dengan kepala dingin. Saling berdiskusi dan memahami keinginan masing-masing demi mencapai titik temu yang kita sepakati.

Karena kita sama-sama belajar. Komunikasi penuh emosi tidak akan membuahkan hasil yang kita kehendaki. Kita perlu bersabar dan tetap menjaga perasaan masing-masing pribadi.
“Komunikasi itu ibarat oksigen dalam sebuah hubungan. Karena kepercayaan dapat hidup jika ada komunikasi yang terbina dengan baik.”

Walau masalah datang silih berganti, tapi komitmen yang sama membuat kita tidak menyerah dan berhenti.
 
Selalu ada pengorbanan. Selalu ada perjuangan. Ini memang tidak mudah. Tapi, menjalaninya bersamamu tidak membuat hubungan ini terasa begitu berat.

Kita berselisih, kita berdebat. Ada kalanya pula aku merasa gerah. Hubungan yang minim kontak langsung ini tentu menyimpan segudang tantangan.

Tapi, kita tidak menyerah. Karena komitmen yang sama menjadi tempat kasih kita bermuara dan tempat kaki kita kembali berpijak. Kita tahu ada sesuatu yang akan kita tuju di akhir jalan ini.

“Kesamaan visi dan misi yang telah kita rajut bersama dari awal. Komitmen inilah yang menjadi benang inti dalam hubungan kita.”
 
 
Kita menghentikan langkah kaki kita di sini. Kamu berdiri menghadapku dan menatap lekat mataku. Ada sesuatu yang tersirat dari caramu memandangku. Aku memahaminya tanpa perlu ada translasi ke dalam kata. Kita berbincang singkat dan saling memberikan pelukan hangat. Lalu, kamu membalikkan badan dan mulai berjalan menarik kopermu, menjauhi tempatku berdiri dalam diam.

Aku hanya mampu menatap punggungmu. Aku menghela napas dan tersenyum. Jarak dan waktu kembali menjadi penghubung antara kita. Rindu kembali menjadi penghias kisah kita.
 
Kejujuran dan kesetiaan kita sedang diuji saat ini. Tapi, aku akan bersabar. Hingga nanti saatnya semesta menyatukan kita.

"Sebab ini bukan hanya soal rasa yang membuncah dari dalam dada. Namun, juga soal cita yang ingin kita perjuangkan bersama. Bukankah begitu, sayang?”
 
 Sumber : http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/jarak-bukanlah-halangan-bagi-kita-yang.html
Rabu, 28 September 2016

YAAA TUHAN....TOLONG PILIHKAN AGAMA YANG BAIK BUAT SAYA...KALAU BISA JANGAN ISLAM.....MERINDING MEMBACANYA....



Bagaimana cerita Bapak masuk Islam?
Saya sadar Tuhan itu ada. Tapi saya bingung karena banyak agama yang ditawarkan. Saya sebenarnya Kristen, tapi saya tidak sreg dengan beberapa ajarannya. Beberapa tahun lalu saya tertarik pada Islam. Ketika itu saya takut mati. Istri saya Islam dan dia menjalankannya dengan baik. Anak kedua saya, perempuan, juga Islam. Anak lelaki saya tadinya Kristen taat lalu masuk Islam. Lha saya? jika mati, mati saya tidak jelas.

Saya bingung, Saya berdoa sambil menangis. Tolong pilihkan agama yg baik buat saya ya Tuhan, kalau bisa jangan Islam (tersenyum) Islamkan berat. Lagi enak-enak tidur mesti bangun, sholat. Lima kali lagi sholatnya. Belum lagi puasa. Saya jam sebelas sudah gemeter kalau belum makan. Lagi pula, banyak yang tidak saya suka dengan Islam. Kok umat Islam banyak yang jadi pengemis? Banyak yang minta-minta dijalanan untuk pembangunan mesjid? Begitulah dulu saya melihat Islam.

Alhamdulillah, saya punya sahabat. Dia tidak pernah ngomong, Manik ayo masuk Islam, kalau tidak kamu masuk neraka. Nggak. Dia cuma menunjukkan dia muslim yang baik. Dia puasa, dia sholat. Satu hari dia ngajak saya buka puasa. Saya tanya dia apa enaknya puasa. Dia tidak menjelaskan pake dalil agama. Dia pake pendekatan kesehatan. 

Saat itu kelesterol saya tinggi. Dia suruh saya puasa. Saya nolak. Mana kuat? Jam sebelas saja udah gemeteran. Trus dia mengusulkan puasa Senin – Kamis saja. Akhirnya saya coba. Istri saya heran. Eh, ternyata saya kuat. Pelan-pelan saya tertarik. Saya sering dengar ceramah di TV, radio, sering baca buku. Akhirnya masuk Islam.

Selama menjadi muslim, ada tidak ajaran Islam yang tidak masuk akal?
Justru banyak ajaran Islam yang masuk akal saya. Berat memang, tapi benar. Banyak ajaran Islam yang menyentuh perasaan saya. Bayangkan, senyum saja berpahala. Saya banyak berubah setelah berislam. Saya berhenti merokok, minum dan berjudi. Teman saya heran.

Perbedaan paling dasar dalam diri Bapak sejak masuk Islam?

Banyak. Saya mencoba menjalankan segala perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. Sebelum ini saya pelit pada orang. Kalau ada orang susah, saya bilang ‘Usaha dong’. Sekarang saya sadar rezeki itu yang saya peroleh tidak mutlak milik saya. Ada hak orang berupa Zakat. Sekarang kalau bisa melakukan sesuatu buat orang, saya merasakan kenikmatan.

 Bagaimana Bapak menjaga keislaman Bapak?
Itu yang paling berat. Saya berprinsip mengalahkan hawa nafsu itu kemenangan terbesar. Saya mulai dari diri sendiri dan keluarga. Kalau anak perempuan saya malas sholat, saya bilang ke dia,’dulu kamu nangis-nangis minta saya masuk Islam. Kamu sholatnya malas. Ayo, pergi sholat sana’. Saya boleh nyiram dengan air kalau mereka malas sholat.

Menurut Bapak, apa yg harus diubah dari umat Islam?
Saya mungkin agak pedes dalam hal ini, saya mohon maaf. Saya melihat banyak umat Islam yang perlu di Islamkan lagi. Maksud saya bukan bersyahadat lagi, tapi berislamlah dengan memakai ilmu dan nalar, jangan hanya ikut-ikutan atau karena terlanjur Islam. Misalnya saya sering sholat Jum’at diluar. Banyak orang tidak mengerti tata tertib sholat. 

Mau rapat saja segan padahal rapat dan lurusnya shaf adalah syarat mutlak diterimanya sholat. Disuruh mengisi shaf didepan susah sekali. Shaf pertama itukan pahalanya paling besar. Kalau dia mengerti dan tahu pasti akan berlomba-lomba. Ini karena mereka berislam tanpa ilmu. Kadang saya pengen sekali berceramah, tapi saya tahu kemampuan saya terbatas dan sekarang belum bisa.  [http://bacaberit4.com/]

Kisah Nyata Yang Mengerikan Sang Penggali Kubur ===> Yang Gak Punya Nyali Besar Jangan Baca.!!!!!


Terdapat seorang pemuda yang kerjanya adalah menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang alim/ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah SWTDia berkata, “Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat.”

Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!

-Yang pertama, “aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telahpun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” tanya pemuda itu.

-“Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah SWT sewaktu hidupnya. Lantaran Allah SWT menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membedakan mereka daripada golongan muslim yang lain,” jawab ahli ibadah tersebut.

-Sambung pemuda itu lagi, “Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahat. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, aku melihat wajah mereka telah berubah menjadi ****. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?”

-Jawab ahli ibadah tersebut, “Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika shalatnya sempurna, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,”

-Pemuda itu menyambung lagi, “Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa saja. Apabila aku menggali kubur nya
pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalubanyak daripada perutnya itu.”

-Jawab ahli ibadah tersebut “Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda,” balas ahli ibadah itu lagi.

-Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?”

-Jawab ahli ibadah itu, “Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah SWT sama sekali tidak redha kepada manusia yang menderhakai ibu bapanya.”

-“Ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya,” sambung pemuda itu.

-“Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda,” jelas ahli ibadah tersebut.

-“Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, sewaktu siangnya lahatnya kering kontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,”

-“Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya,” jawab ahli ibadah tadi.

-“Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?” tanya pemuda itu lagi.

-Jawab ahli ibadah tersebut, “Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka. Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah SWT baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya. Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah kita datang dan kepada-Nya jualah kita akan kembali. Kita akan di pertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta walaupun amalan sebesar zarah.

-Setelah Anda membaca kisah ini. Sampaikan atau hantarkan kepada sahabat dan rekan-rekan anda. Mudah-mudahan amalan baik yang sedikit ini diambil kira oleh Allah Taala di Akhirat kelak. Aamiin.
Sumber: ukhtiindonesia

Kadang Bunda Gak Sadari Inilah Dosa-dosa yang Terkandung Dalam Hijab Syar'i

Netnit.net - Seperti kita kenali berbarengan, hijab syar'i saat ini mulai semarak serta mulai jadi tren. Ini yaitu kebaikan serta kemuliaan.
Dan membuatnya lupa dengan semangat melakukan perbaikan akhlaq.
Setan, menjeratnya dengan suka menumpuk~ numpuk baju serta mengurangi sedekahnya.
Setan selalu menumbuhkan semangatnya untuk tampak cantik serta syar'i, tetapi melupakan diri untuk memberi pengetahuan agama.
Belum senang dengan itu, setan menyemangati supaya beberapa wanita yang berhijab syar'i untuk ada di majelis-majelis ta'lim dengan maksud menunjukkan koleksi hijab syar'i kepunyaannya.
Setan juga makin suka, lantaran wanita muslimah telah melupakan pengetahuan tawadhu serta kesederhanaan.
Wanita muslimah juga menabung sedikit-sedikit untuk beli hijab syar'i serta melupakan tabungan ke tanah suci. Lupa menabung untuk berkurban bahkan juga gampang menabung untuk beli pakaian daripada keluar untuk sedekah...
Saat hijab syar'i yg baru di belinya, ada yang sedikit cacatnya, fikirannya resah penuh kecewa. Setan sudah membuatnya lupa dengan cacat shalatnya, cacat sedekahnya, serta cacatnya baca alqur'annya.
Bila hijab syar'i yg di milikinya, mempunyai keindahan yang prima ia tak siap menyedekahkan nya. Hatinya sudah menikah dengan dunia serta bercerai dengan RABB-nya. Bila telah sekian masihkah miliki hasrat mengoleksinya?
Milikilah hijab syar'i sekedarnya, Sederhanakanlah tampilan...
Belilah yang harganya tidaklah terlalu jauh dengan harga kain kafan. Karena kelak kita pasti akan memakainya di alam kubur. Semoga dengan kita membaca sedikit penjelasan tentang dosa-dosa yang terkandung di dalam hijab syar'i ini kita bisa menjadi lebih baik lagi dan bisa memperbaiki keluarga menjadi lebih baik lagi. Wallahu A'lam
sumber : redaksi9

Ayah, Bunda.. Pernah Melihat Sandal Ini Ditoko-toko, Mulai Saat Ini Berhentilah Menggunakannya, Kalau Tidak Maka Seperti Ini Dampak Pada Anakmu

Netnit.net - Sebagian situs kesehatan melaporkan kalau Tv Jerman telah menguji sandal dengan bahan ini dan akhirnya begitu mengagetkan. Sandal itu mengandung formamida, bahan kimia beracun dan bersifat karsinogenik yang bisa masuk ke badan lewat kulit. Bahan sandal ini semacam dengan bahan tikar puzzle yang juga kerap dipakai di beberapa tempat tinggal.
Berbentuk murninya, formamida yakni zat kimia yg tidak berwarna dan kental, berbau amonia enteng, mudah larut di air dan gampang masuk badan lewat pernapasan atau penampakan kulit. Zat beracun itu ditambahkan sepanjang system manufaktur untuk buat busa lebih lentur dan empuk.
Coba c1um aromanya, dalam keadaan sandal masihlah baru aroma kimia bakal terc1um begitu menyengat.
Formamida yakni zat berbentuk karsinogenik, karsinogen adalah zat yang menyebabkan penyakit kanker. Beberapa zat karsinogen menyebabkan kanker dengan merubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam beberapa sel badan hingga mengganggu beberapa system biologis.
Sebagian situs kesehatan seperti Timefornaturalhealthcare, Healthylifevision dan Healthyfoodadvice menyimpulkan bahaya pemakaian sandal itu juga lantaran hidrokarbon aromatik polisiklik yang diketemukan di dalamnya. Enam dari sepuluh sandal yang diuji diketemukan mengandung senyawa di tingkat yang lebih tinggi. Dianjurkan, untuk orang yang sangat terpaksa memakai sandal beresiko itu hendaknya memakai kaus kaki.
Banyak orangtua yang membelikan sendal seperti ini untuk anak-anaknya. Sayangi anak anda, pakaikan kaus kaki tiap-tiap menggunakankan sandal itu pada si kecil, atau lebih baik ditukar dengan sandal yang lebih terjamin keamanan bahannya
Sekianlah berita kali ini ” Anak Anda Termasuk juga yang Memakai Sandal Seperti Ini ” mudah-mudahan bisa berikan faedah dan penambahan wawasan pada anda dan terima kasih atas kunjungan anda, Serta Janganlah lupa berikan info ini ya.
sumber : solusisehat

Mungkin Bunda Belum Tau - Ternyata Memakai Jilbab Seperti Ini Dilarang, Ini Penjelasannya...

Netnit.net - Muslimah diwajibkan untuk menutup auratnya dari pandangan mata bukan muhrim. Salah satu yang harus ditutup seorang wanita yakni bagian kepalanya.

Jilbab digunakan muslimah untuk menutupi auratnya di bagian atas. Selain itu juga sebagai identitas bagi wanita muslimah.

Dalam perkembangannya, berbagai macam gaya jilbab muncul untuk mempercantik penampilan.
Meski sudah menjadi kewajiban, namun memakai jilbab juga memiliki aturan.

Dikutip dari laman akhwatshalihah.net, ada cara memakai jilbab yang ternyata dilarang.
Salah satu gaya yang terlarang dilakukan adalah memakai jilbab punuk unta.

Pada bagian belakang kepala, sengaja dibuat tonjolan meninggi sehingga terlihat seperti punuk unta.
Parahnya, gaya ini justru menjadi tren dilakangan wanita muslimah masa kini.

Ternyata ini sudah diprediksi sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Hal ini terkesan sepele, namun ternyata dosa nya sangat besar.

Berikut ketahui dosa memakai jilbab punuk unta untuk menghindari neraka.

Hal ini disampaikan Nabi Muhammad SAW sepulangnya Beliau dari Isra’ Mi’raj. Dalam perjalanan tersebut, Rasul melihat wanita dengan jilbab punuk unta jalan berlenggak-lenggok.

Mirisnya, Rasul terakhir ini melihat golongan tersebut di neraka. Bahkan perempuan-perempuan ini tidak akan bisa mencium bau surga.

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya yaitu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).

Maksud punuk unta dalam hadist di atas adalah, wanita menggulung rambutnya sehingga membentuk tonjolan dibagian belakang jilbabnya.

Bukan dihindari, wanita masa kini justru sengaja membuat benjolan tersebut.

Jika rambutnya pendek, mereka bahkan akan membeli dalaman jilbab dengan jenis konde ato cepol.
Sehingga tonjolan tersebut memang sengaja dibuat untuk mempercantik penampilan. Maka wajib untuk mengurainya dan tidak menumpuknya.

Ancaman kabar dari Nabi Muhammad ini tentu bukan main-main dan hanya menakut-nakuti. Namun nyata akan diterima jika kita tetap melanggarnya.

Jangankan masuk surga, wanita dengan jilbab punuk unta juga tidak akan pernah mencium aroma surga. Padahal, wangi surga bisa tercium dari ribuan mil jauhnya. 
sumber : tribunnews
Sabtu, 17 September 2016

Waww.. Jamaah Haji Bertato Dari Australia Ini Menarik Perhatian Wartawan Indonesia.. Ternyata Dia Sebenarnya....

Waww.. Jamaah Haji Bertato Dari Australia Ini Menarik Perhatian Wartawan Indonesia.. Ternyata Dia Sebenarnya....

Dari kejauhan, langkah delapan pria berihram itu melambat karena beriringan dengan ribuan jamaah yang ingin memasuki Masjidil Haram via gerbang King Abdul Aziz Gate. Di tengah kaki anak tangga mereka menghentikan langkah kaki dan memandang Kakbah, pada 2 September kemarin.

Tak ragu, wartawan Okezone pun mendekati pria-pria berperawakan tegap dan berpenampilan mirip satu sama lain itu. “Assalamualaikum, ya hajj. I’m Saiful from Indonesia.”

“Our brother from Java. Nice to meet you, Saiful,” ujar salah satu pria dalam rombongan haji yang ternyata berasal dari Australia tersebut.

Dari balik kain ihram tersebut, tampak tubuh gempal mereka dihiasi tato bermotif sayap, tulisan, dan tribal, mulai dari badan hingga betis. Penampilan mereka terbilang unik karena berkepala plontos dengan panjang jenggot sekira 15-20 sentimeter. Namun, wajah mereka berseri-seri dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Sangat ramah dan supel di hadapan orang yang baru mereka kenal.

Salah satu dari mereka mengaku bernama Ismail. Melihat wajahnya, ia baru berusia sekira 30 tahun. Ketika saya bertanya beberapa hal, ia tampak paling antusias bercerita. Ternyata dia mualaf.

“Why did you tattoing?” (Kenapa km bertattto?) Ismail menjawab, “It’s my past time when I’m seventeen. May Allah forgive me.” (ini adalah masa laluku saat masih 17th, semoga Allah mengampuniku)

Kelima Muslim asal Negeri Kanguru ini mengaku dulunya Nasrani. Selepas kuliah, mereka mengenal agama Islam dan tergabung dalam sebuah organisasi resmi yang menaungi umat Islam di Australia.

Kita doakan untuk saudara-saudara muslim kita yang saat ini menunaikan ibadah haji...
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا

"Semoga Allah menganugerahkan haji yang mabrur, usaha yang disyukuri dan dosa yang diampuni."

Aamiin....


Semoga bermanfaat.
Semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan sebarkan kepada rekan-rekan yang lainnya.

Sumber: http://tausiah-islamiah.blogspot.co.id/

TERUNGKAP..Ternyata Sosok Manusia Tanpa Wajah Di Masjid Nabawi Yang Hebohkan Sosmed Adalah......

TERUNGKAP..Ternyata Sosok Manusia Tanpa Wajah Di Masjid Nabawi Yang Hebohkan Sosmed Adalah......

Sebuah foto menjadi viral dan menggemparkan publik. Seorang jamaah haji asal Mesir mengaku, ia mengambil foto di Raudhah dan kemudian terkejut karena di foto tersebut terdapat sosok tanpa wajah.

Sebuah foto menjadi viral dan menggemparkan publik. Seorang jamaah haji asal Mesir mengaku, ia mengambil foto di Raudhah dan kemudian terkejut karena di foto tersebut terdapat sosok tanpa wajah.

Jamaah haji yang memotret foto tersebut bahkan berani bersumpah bahwa ia telah memotret sosok tanpa wajah di Masjid Nabawi tersebut.

Sontak, foto tersebut mengundang kontroversi. Bagaimana kebenaran foto tersebut? Pertanyaan ini diajukan kepada KH Abdurrahman Navis.

“Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga jika di Masjid Nabawi terjadi keanehan-keanehan, hal itu mungkin saja. Namun yang perlu ditelusuri adalah kebenaran dari orang yang menyampaikan hal itu. Apakah ia jujur dan berkata benar karena sekarang banyak foto editan,” terangnya dalam siaran di Sam FM, baru-baru ini.

“Jadi kalau ada sosok yang wajahnya tidak kelihatan, itu mungkin saja. Tetapi yang perlu kita cek, benar tidak informasi itu. Bahkan ada yang katanya itu ketika dia thawaf melihat orang yang kepalanya seperti anjing atau kepalanya seperti hewan. Itu mungkin saja. Semua itu mungkin. Tetapi yang perlu dicek, benar nggak informasi itu,” lanjutnya.

“Jadi tentang yang di media sosial itu, saya tidak bisa menjelaskan benar atau tidaknya, karena hal itu diperlukan untuk cek dan recek. [surga-tausiah]

Skotlandia Akhirnya Izinkan Polisi Wanita Pakai Hijab

Skotlandia Akhirnya Izinkan Polisi Wanita Pakai Hijab

Skotlandia menjadi negara terakhir di bawah pimpinan Britania Raya yang mengizinkan polisi wanita (polwan) memakai hijab, atribut keagamaan bagi muslim perempuan. Kebijakan itu direalisasikan pekan ini. Hijab dijadikan seragam opsional guna menjaring etnis minoritas di negara tersebut.

“Seperti banyak pegawai lain, khususnya di sektor (pegawai) publik, kami berupaya menjamin bahwa pelayanan (kepolisian) kami mewakili komunitas yang dilayani. Saya berharap seragam tambahan ini dapat berkontribusi dalam menciptakan bauran keragaman pegawai kami,” kata Kepala Polisi Skotlandia, Phil Gormley, seperti dikutip dari Al Araby, Jumat (26/8/2016).

Pengumuman ini disambut baik oleh Serikat Muslim Polisi Skotlandia (SPMA). Asosiasi tersebut menilai kebijakan tersebut akan menjadi langkah positif yang menjamin pengakuan kebebasan beragama.

“Saya senang Kepolisian Skotlandia mengambil langkah pro-aktif untuk memastikan organisasi kami dipandang inklusif dan mewakili beragam komunitas yang dilayani di negara ini. Tidak diragukan lagi, ini juga akan mendorong lebih banyak muslimah dan etnis minoritas lainnya akan suka bergabung dengan kepolisian Skotlandia,” komentar Ketua SPMA, Fahad Bashir.

Kebijakan ini diterapkan setelah data statistik terbaru menunjukkan bahwa 127 dari 4.809 pelamar atau 2,6 persen orang yang mendaftar jadi Polisi Skotlandia berasal dari kelompok minoritas. Hal ini dilihat sebagai tantangan baru dalam tubuh kepolisian dan perlu dicarikan solusinya.

Kepolisian London, Ibu Kota Inggris telah lebih dulu membiarkan muslim perempuan mengenakan hijabnya saat bertugas. Kebijakan ini disahkan pada 2001. ( Okezone )

Kisah Pendeta Senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam Setelah Bermimpi Ketemu Nabi Muhammad SAW

Kisah Pendeta Senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam Setelah Bermimpi Ketemu Nabi Muhammad SAW
“Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, “Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, “Bukankah anda seorang pendeta?” Aku jawab, “Benar.” Lantas ia bertanya kepadaku, “Siapa Tuhanmu?” Aku katakan, “Al-Masih.” Ia kembali berkata, “Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’.” Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, “Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab.” Aku katakan, “Kalau begitu, coba beri jawabannya!” Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, “Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…” lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, “Wahai Ibrahim!” Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, “Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?” Aku jawab, “Benar.” Ia berkata, “Lihat ke sebelah kananmu!” Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!” Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, “Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.” Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, “Selamat datang ya Ibrahim!” Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, “Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah SWT untuk hamba-Nya yaitu Islam.” Aku katakan, “Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?” Ia menjawab, “Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.” Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, “Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?” Ia berkata, “Benar.”

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah SWT telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.” Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, “Demi Allah sesungguhnya Allah SWT telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.” Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, “Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.” Aku katakan, “Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.” Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, “Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.”

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, “Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.” Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?” Ia menjawab, “Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.”

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, “Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, tidakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!”

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (alsofwah)

(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616)