Tampilkan postingan dengan label Islamedia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamedia. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Oktober 2016

Cobalah Jadi Aku, Dan Ketahuilah Ada Rasa Yang Sama Seperti Beratnya Menunggu

Untukmu yang masih menunggu dengan penuh kesabaran, semoga Allah memberikan yang terbaik atas segala pengorbananmu. Usahamu untuk terus memantaskan diri, menjaga hijab, dan memperkokoh keimanan membuatku semakin yakin kamu adalah takdirku. Walau sejujurnya, mungkin diri ini masih belum pantas untuk menjadi imammu. Tapi aku terus berusaha untuk itu, untukmu, untuk kita. 


Aku memahami setiap air mata yang akau teteskan, entah kenapa begitu amat pedih yang aku rasakan. Sampai saat ini menjadi seorang pria yang penuh dengan kegagalan, mungkin tidak layak untuk diperjuangkan seperti ini. Aku yang masih berusaha bangkit dari titik nol, berusaha tidak menghiraukan apa kata orang. Karena hanya diriku yang tau apa yang harus dituju, berserta seriko yang harus dihadapi.




Kuliahku terbengkalai dan bisnisku hampir hancur, adalah salah satu harga yang harus aku bayar untuk itu. Dengan keadaanku seperti ini, apakah kau masih bersedia untuk menungguku. Menunggu pria yang entah akan seperti apa hidupnya. Tapi yang pasti, tugasku adalah memastikanmu hidup bahagia. Tidak akan ada lagi air mata yang menetes dengan senyum simpul yang selalu mengembang.


Kita yang disibukan dengan kegiatan masing-masing, bersyukurlah karena Allah masih menjaga diri dan hati kita. Walau sejujurnya, rindu ini tidak bisa aku tahan karena ingin bertemu dengan pemiliknya. Tapi apa daya, aku yang hanya bisa menyebutmu dalam doa. Semoga bisa secepatnya datang kerumahmu untuk bertemu dengan ayah dan ibumu.
Kau tidak harus tau bagaimana beratnya  memperjuangkanmu, yang kau harus tau adalah aku disini mencitaimu. Walau bibir ini tidak pernah bicara begitu, tapi aku yakin hatimu tau apa yang sedang aku rasakan. Dan semoga seperti itu.

Sugguh tidak nyaman, berjuang sendirian dengan banyak tekanan. Tapi ini lebih baik, daripada ada penyesalan di saat tua nanti. Ini pilihanku pada waktu itu, sama halnya dengan aku memilihmu dan bertahan sampi sekarang. Aku yakin bisa melalui ini dengan cepat, semoga waktu memberi kesempatan untuk kita bisa bersatu. Semoga perjuangan kita tidak sia-sia, memperjuangkan sesuatu yang seperti tidak ada. Padahal nyata.
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/cobalah-jadi-aku-dan-ketahuilah-ada.html

Jangan Diam Terus, Ini Saatnya Kamu Mencari Jodoh!

Semua orang pasti memahami arti ‘cinta’. Karena cinta adalah satu kata yang tidak pernah lepas terpikirkan, tidak pernah absen dalam perbincangan. Tidak juga datang dan pergi dengan peringatan. Ungkapan “Jodoh di tangan Tuhan” itu memang benar adanya. Karena takdir kita sudah ada yang mengatur. Dengan siapa kelak kita akan hidup bersama sudah digariskan oleh sang Maha Kuasa. Tapi meski pun kita percaya bahwa jodoh kita ada yang menentukan, bukan lantas kita hanya pasrah dan menunggunya.  


Tidak, tidak seperti itu, Itu namanya kita tidak mau berusaha. Jodoh itu bukan untuk ditunggu, tapi ditemukan. Siapa yang menemukannya? Tentu saja mereka yang telah berusaha mencarinya.



Apa itu Mencari?
Mencari, tidak berarti kamu harus berlarian untuk menemukannya. Yang dimaksud dengan mencari di sini ialah memperbaiki dirimu. Mencari di mana yang harus diperbaiki dalam dirimu. Entah itu sikap atau keimanan. Karena apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri itu berarti kamu sedang mempersiapkan seperti apa calon yang ingin kamu temukan. Karena apa yang akan kamu dapatkan akan setimpal dengan apa yang kamu telah kamu usahakan. Bukan kah usaha keras tidak akan pernah membohongi?

So, tidak usah terburu-buru untuk segera menikah. Jodoh itu datang seiring dengan siapnya dirimu. Siapkan dirimu sebaik mungkin untuk jodoh yang baik pula. Semangat!
 http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/jangan-diam-terus-ini-saatnya-kamu.html

Ikhlas Cintamu Meyakinkanku, Bahwa Jarak antara Kita Berdua Ini Pasti akan Terhapus

Sore ini cerah, secerah saat kita berdua dipertemukan setelah dua semester kita diuji jarak. Bus sekolah kuning pucat yang gagah ini, dengan para penumpangnya yang terlelap nyenyak, atau sibuk dengan ponselnya, mendengarkan lantunan musik lewat sepasang earphone-nya dan juga sepasang muda yang girang bercengkrama tentang kemudaan, selalu senantiasa mengantarkanku ke kampus gudang ilmu. 


Semua menjadi pemandangan rutin dalam sekotak kendaraan beroda 4 ini. Aku yang berdiri tepat di pintu bus, hanya mampu menikmati biru langit dengan vertikal hijaunya jejeran pohon rindang lewat kaca jendela yang mengernyit saat melewati jalanan yang ‘tak rata. Sinar matahari senja yang berani menerobos kaca-kaca bening ini, menyapa wajah lelahku, membuatku menutup mata sejenak, membiarkan ia menghangatkanku.





Dalam pejam netra sekejapku, sosokmu kembali muncul. Suara tawa ringanmu saat itu, tatapan tajam sepasang bola matamu dan lambaian tangan itu, semua mengacaukan batas antara kenangan dan kenyataan. Menguatkan dan melemahkan dalam satu saat yang bersamaan.

Saat dimana aku merasa punya segalanya namun aku berupaya beranjak menjauh dari itu semua. Saat dimana aku ingin menolak apa yang selama ini aku panjat doakan. Berat langkah kakiku menuju. Berat tatapan mataku beralih adu. Hingga basah terasa di ujung mata sayu, menyadarkanku bahwa aku telah ‘tak lagi di situasi itu.

Garis cakrawala samar terlihat mencoba melawan lekuk menawan siluet pemandangan senja sore di langit negara matahari terbit ini. Jauh kumelihat di balik tipis pembatas dunia itu, “Sedang apa kau disana?” Tanyaku lirih.


Liku labirin waktu dan jalan terjal telah kita lalui. Suka senang, gelak tawa, rindu kepercayaan, saling dukung dan topang, canda tingkah polah laiknya bocah, amarah, dendam, cemburu, curiga, selingkuh, khianat, diam, hilang perhatian, lupa janji jenuh akan diri masing masing, semua kita cicipi, kita rasai. Merusak dan saling memperbaiki. Terputus lagi dan saling menyambung diri. Menghilang dan saling menemukan. Melemah dan saling menguatkan. Meninggalkan dan saling menantikan.
 
Tanpa sadar, kubelajar akan makna kesetiaan yang selama ini aku ‘tak tahu menahu indahnya itu, semua darimu. Meski melibatkan banyak kaummu dan kaumku sebagai peran penting di setiap sekuel lembar cerita roman kita. Darimu, aku belajar menghargai sesuatu yang ‘tak bernilai menjadi sesuatu yang tak ternilai.


Setiba di halaman sekolah, kuambil sepedaku yang tangguh, ku kayuh ia mengantarku pulang ke peraduan. Kini ku bisa merasakan asli sepoi angin senja hari. Sambil mendengarkan lagu kesukaan kita, kembali kunikmati sosokmu yang ‘tak lebih dari bayangan semu.


Silau cahaya senja dengan lugas menerpa semua bagian tubuhku, memaksaku untuk sedikit menyipitkan sepasang mata kecil ini, ah…semua ini terlalu indah kulalui tanpamu, gumamku. Sempat terpikir andai bisa kucuil senja yang romantis ini, kubungkus dan ku bawa terbang untuk kupersembahkan padamu. Hingga bisa menciptakan bayang sosok kita berdua.

Wajah-wajah pribumi mengisi pemandangan sepanjang jalan kembaliku. Segala gurat garis di paras mereka, menyadarkanku bahwa kini ku ‘tak lagi membutuhkan cermin waktu untuk ku mengetahui pantulan usia dan beda dalam setiap jiwa yang hidup. Mengingatkanku, bahwa ‘tak lama lagi angka usia ini bergeser.


Dan untuk kedua kalinya, akan kulewati tanpamu, di sini. Meski kutahu kita saling meluangkan waktu di satu malam, untuk menyebut nama masing-masing dalam lantunan doa yang seakan menghapus jarak samudera liar di sana.


Kasih, tahukah kau? Ikhlas cintamu yang ‘tak berkemas indah dan menawan, namun rasa tunggal itu telah selalu menghantarku sebatang kara ke negeri sebrang ini. Meyakinkanku, bahwa sederhana rasa kita memegahkan segala usaha jerih payah. Memantapkanku, bahwa jauh jarak ini terasa terhapus berkat gigih perjuanganmu merangkulku dengan keanggunan tingkah laku kelelakianmu.


‘Tak seperti Chairil yang mengurungkan niat ungkapkan rasa saat ia jatuh cinta pada Sri Ayati di masa mudanya, kepribadianmu yang latif nan lembut dalam memperlakukan ku sebagai perempuan terindah, membuatku merasa sangat beruntung dilahirkan sebagai kaumku, dan Sri Ayati ‘tak seberuntung aku di masanya.

Ujian bertubi ‘tak lelah berhenti, menerpa niat istiqamah ini. Namun yakin diri berikrar, cambuk ruang dan waktu ini menguatkan semua yang rapuh dan ragu. Memondasi dan saling memperbaiki. Meniang kokoh dan saling mempercayai. Menembok rapat dan saling menjagai. Mencipta atap dan saling melindungi.


Kasih, tunggu aku di situ. Kelak ku akan kembali ke rangkul hangatmu dan gores seribu kisah anyar nan apik di tiap lembar perkamen roman kita, dan hanya kita. Cengkrama deretan huruf berjejer kita, bak rantai yang menembus bingkai jarak, erat saling mencengkram, ‘tak berjarak ‘tak berputus.
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/ikhlas-cintamu-meyakinkanku-bahwa-jarak.html
 

Atas Nama Ketidakberdayaan, Kita yang Tak Seiman Harus Saling Melepaskan Genggaman

Aku tidak tahu sejak kapan keresahan itu melanda jiwa kita. Jarum jam yang melaju kita lewati dengan langkah yang ragu-ragu. Ada semacam rasa khawatir luar biasa yang tak kunjung reda di dalam dada: Perbedaan kita, mampukah kita buat tiada? 
 
 
Kita sama-sama tahu, bahwa saat ini kita hanya menjalani kebersamaan semu yang terlalu rapuh. Sebab, suka tidak suka, mau tidak mau, kita akan sampai di persimpangan yang memaksa kita untuk mengambil jalan yang berlainan. Bukan berdampingan. Sebab, dalam perbedaan kita, terkandung janin perpisahan yang bisa lahir kapan saja tanpa kita bisa menolaknya.
 
 
 
 
Harusnya kita bersyukur atas pertemuan ini. Tapi mengapa Tuhan menuliskan takdir dengan akhir yang getir?
 
 
Aku takut. Kamu juga kalut. Kita mendadak menjadi manusia yang pengecut. Masing-masing dari kita mulai menyalahkan pertemuan yang menciptakan cinta dan luka dalam satu paket yang sama. Tapi, bukankah menyalahkan pertemuan berarti juga menyalahkan Tuhan? Dan itu bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan oleh manusia seperti kita.
 
 
Justru seharusnya kita bersyukur atas pertemuan yang telah diciptakan oleh tangan yang Maha Kuasa. Sebab pertemuan kita telah merajut hal-hal indah yang kelak akan kita kenang dengan senyuman. Meski begitu, barangkali tetap ada hal yang sangat disesalkan: Mengapa Tuhan juga menuliskan takdir dengan akhir yang getir?
 
 
Kata mereka “Amour Vincit Omnia”. Bahwa cinta mengalahkan segalanya. Tetapi bagi kita, cinta begitu tak berdaya ketikas berhadapan dengan satu kenyataan Tuhanku dan Tuhanmu berbeda.
Kita mengerti tidak ada pertemuan yang berjalan abadi tanpa ada perpisahan yang kelak terjadi. Mungkin, bukan kehendak Tuhan untuk mempersatukan setelah mempertemukan. Dan kita yang tak punya daya tak lagi bisa berbuat apa-apa selain dengan tega membunuh cinta atas nama ketidakberdayaan jiwa.
 
 
 
Mungkin yang mereka katakan itu benar adanya. Cinta yang terpaut perbedaan iman adalah sebuah ujian.
 
 
Sejak awal, kitalah yang terlalu egois. Memaksakan diri untuk saling menautkan hati meski kita tahu ada batas yang tidak akan mampu kita lalui. Lantas atas nama perasaan yang berbunga-bunga kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Hingga kita sampai pada waktu di mana kita sadar, bahwa kita tidak bisa selamanya menipu diri. Bahwa kita butuh kepastian.
 
 
Kita yang terlanjur berbeda akan membawa cinta ini kemana? Aku yang berlari menujumu, atau kamu yang mengikutiku? Walau bagaimanapun juga, kebersamaan kita terlalu rapuh. Tetapi kita belum siap untuk menjauh.
 
 
Jika kita mau jujur, cinta yang kita coba pertahankan tak kan sebanding dengan cinta yang Tuhan kita berikan. Mungkin benar apa yang mereka katakan, bahwa cinta yang terpaut perbedaan iman adalah sebuah ujian apakah kita lebih mencintai Tuhan atau justru berbalik meninggalkan.
 
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/atas-nama-ketidakberdayaan-kita-yang.html

Aku Masih Bernafas Meski Tanpamu, Karena Mencintai Diriku Sendiri itu Lebih Penting dari Apapun

Dia, merajut memori dalam diam. Kesunyian ini begitu memekakkan telinga. Dalam hati, mengetahui secara pasti bahwa kenangan hari ini akan menjadi satu lagi ingatan traumatis. Ia hanya diam dan aku menoleh. Bagaikan bernafas dengan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.



Hatinya seluas samudra. Awalnya, aku jatuh cinta dengan dengkuran lembut dan detak jantungnya yang begitu hidup dan begitu dalam. Baru kusadari betul bahwa aku bukanlah satu-satunya ikan di zona neritiknya.


 
 
Aku tahu betul, sejak aku berusia 5 tahun bahwa mencuri mainan dari anak lain bukanlah hal yang terpuji. Mainan pertama yang kucuri dari temanku adalah boneka anjing yang sudah bau lembab. Aku tidak pernah mencuri mainan yang masih baru dan mengkilap. Begitu pula orang yang sekarang ini duduk di sampingku.

Entah sudah berapa banyak orang yang pernah menghirup aromanya di dalam mimpi indah yang tak berkesudahan. Entah seberapa banyak kartu As yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Entah sudah berapa kali kakiku melangkah maju hendak menutup halaman terakhir dari kisah cinta kita.


Apakah momen krusial ini menjadikanku orang yang buruk? Apakah rasa bersalah karena tidak meninggalkannya sejak awal akan menuai cemooh orang lain? "Tidak." Jawabku samar di antara lamunannya. Aku bergegas pergi dan pulang ke rumahku sendiri. Tersenyum tipis seperti hujan gerimis di siang hari yang terik. Lebih membenci diriku yang sekarang ini, memutar kembali miliaran ingatan seperti proyektor usang yang terbengkalai.


Telepon genggam bergetar dalam saku jaketku. Sepuluh pesan masuk kudapati dari sahabatku. Tidak ada satupun pesan dari dirinya. Aku masih berharap. Pukul sebelas malam. Aku masih berharap. Tengah malam lewat lima menit. Aku masih berharap. Pukul tiga subuh, mataku belum terpejam.
Pertengkaran kami seabstrak lukisan Picasso. Aku masih mengharapkannya memecah kesunyian di tengah perang dingin ini. Berharap dia akan membuat lelucon garing khas dirinya.


Diam sejenak, aku merasa bahwa rohku mengapung di dalam kesepian yang absolut. Aku tertidur setengah jam kemudian.
 
Aku terbangun pukul tujuh pagi. Menatap layar handphone yang berpendar. Dua puluh pesan selama aku tertidur pulas. Semuanya dari sahabatku. Aku bergerak malas dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurku. Membaca semua pesan yang tertinggal dari para sahabatku. Seketika aku merasa lega. Aku bernafas pelan. Seumur hidupku, belum pernah diriku merasa serileks ini.


Ibuku memberiku roti tawar untuk sarapanku. Ayahku meminum secangkir kopi pahit tanpa gula. Kakak-kakakku bersenandung pelan dan menggosok gigi di wastafel. Aku termenung sembari mendengar irama hujan yang terdengar seperti ratapan. Mereka menanyakan keaadanku. Teman-temanku tidak berhenti mendengarkan celotehanku. Aku kembali ke kamarku sendiri, mengambil pena dan menulis lagu diatas kertas bergaris.

"Apa kabar?" Pesannya muncul di layar handphone. Aku tidak membacanya. Aku meneruskan tulisanku. Aku tidak pernah merasa sebersyukur itu dalam hidupku. Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Teman-temanku menopangku dengan nasehat dan candaan mereka yang efektif membuatku bangkit dari kesedihanku. Mereka tidak mencelaku.


Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Keluargaku mengisi hari-hariku. Dalam hati berjanji bahwa aku tidak akan lagi mengejar ilusi. Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Lirik demi lirik yang kutulis, akord dari laguku yang kususun melalui gitar akustikku yang berusia 6 tahun. Seniman hebat yang menginspirasi diriku melalui karya mereka.

Aku masih bernafas.
Aku masih bernafas.
Aku masih bernafas.
Mungkin memang tidak semua cerita cinta berakhir bahagia. Sejak awal aku tidak pernah ingin tahu apa yang terjadi di novel The Notebook. Mungkin memang tidak semua cerita cinta berakhir tragis. Tirai tidak pernah menutup di dunia nyata. Dengan kekuatanku yang baru, aku bergegas menyisir rambutku dan memakai setelan terbaikku.


Kami pernah saling mencintai. Kami pernah mengalahkan dunia bersama-sama seperti dalam film superhero. Rasa benciku kepadanya sebesar rasa cintaku kepadanya. Namun apa yang bergerak pergi tak bisa kita dihindari.

Aku belajar bahwa mencintai diri sendiri dan mencintai apa yang kita miliki jauh lebih penting dibandingkan menginginkan bintang yang terlalu jauh untuk diraih. Aku belajar bahwa kesalahanku tidak menjadikanku orang yang buruk. Aku belajar bahwa hati manusia tidak akan pernah terlalu besar untuk memaafkan. Aku belajar bahwa kita tidak akan bebas dari masalah hidup. Dengan mantap, aku mengambil langkah kecil namun pasti.
Aku masih bernafas.
 
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/aku-masih-bernafas-meski-tanpamu-karena.html
 

Cemburu itu Sulit Untuk Dijelasin, Rasanya Sedih, Nyesek Dan Cuma Bisa Dirasain Dan Dipendam

Kecemburuan lahir karena adanya rasa memiliki dalam diri masing-masing. Ketika orang yang kita sayang memberikan perhatian kepada orang lain, rasa cemburu itu akan muncul. Dalam batas-batas tertentu cemburu itu memang perlu untuk menunjukkan adanya rasa cinta. 


Tapi sungguh rasanya cemburu itu tidak enak meskipun tidak dimakan. Karena membuat kita tidak bisa mengendalikan diri. Rasa cemburu ini akan semakin meledak-ledak kalau dia malah gak peduli kalau sebenarnya kita sedang mersa cemburu. Aku benci mersa cemburu, karena membuatku membencimu lalu semakin mencintaimu melebihi hari sebelum-sebelumnya. Kamu juga tahukan bagaimana rasanya cemburu itu? Jika tidak aku ingin memberitahukanmu.


Beginilah Gambaran Singkat Rasa Cemburu yang Sangat Susah Untuk Dijelasin Itu
 
Memang sulit untuk menceritakan tentang rasanya cemburu itu seperti apa. Tetapi biasanya akan timbul perasaan, Gelisah, Menyesal, Putus asa, Marah, yang bersatu menjadi satu rasa, yaitu rasa sakit. Saat cemburu dunia ini rasanya begitu sesak dan sempit dan tidak ada tempat yang nyaman nuntuk ditempati.

Aku Ingin Memberitahukanmu Begini Rasanya Kalau Aku Sedang Merasa Cemburu Padamu Semoga Enggkau Bisa Mengerti
 
Rasanya, sesak, sepi, tenang tapi galau. Lalu..? aku ingin melukaimu! tapi secara bersamaan aku ingin memelukmu. Setelah itu rasanya aku ingin berteriak di depan mukamu tapi secara bersamaan aku ingin menangis di bahumu. Rasanya aku ingin menyudahi hubungan ini tapi aku tidak bisa melepaskanmu.
Ada Kesedihan yang Begitu Mendalam Ketika Kamu Tiba-Tiba Mendiamkanku Seribu Bahasa Tanpa Alasan yang Aku Mengerti
 
Ketika kamu tiba-tiba mendiamiku karena tahu aku mersa cemburu, saat itu juga kesedihanku bertambah menjadi berjuta kalilipat. Marah, malu, ingin bertanya, tidak percaya tapi butuh kejelasan. Dijelaskan tapi tetap tidak percaya seperti itulah rasanya saat kamu tiba-tiba diam ketika aku mersakan cemburu

Entah Cemburu Buta dan Karena Memang Ada Sebab Rasa Cemburu Itu Sama Saja Rasanya Tak Ada Bedanya
 
Tidak peduli aku yang terlalu berlebihan atau memang aku melihat kamu sedang berjalan, tersenyum dan memberikan perhatian pada orang lain, rasa cemburu itu sama saja. Sama-sama sakit dan begitu menyiksa dan terus membuatku ingin marah-marah dan marah lagi. Hatiku begitu sakit ketika mendengarmu berbicara bersama orang lain. Detak jantungku bertambah cepat ketika melihatmu lewat di hadapanku. Darah ini rasanya bergerak cepat ketika aku tahu kamu tertawa dengan seseorang yang bukan diriku. Cemburu itu tidak mengenal jenis yang pasti rasanya sama-sama sakit, kecewa dan segalanya yang menyakitkan.

Namun Rasa Cemburu Itu Terasa Semakin Tajam Mengiris Hati Ketika Aku Tidak Dapat Memberitahukanmu Kalau Aku Merasa Cemburu Padamu
 
Ketika rasa cemburu itu datang aku sangat ingin segera memberitahukanmu, aku sangat ingin kamu tahu kalau aku tidak suka kamu melakukan hal-hal yang bisa membuatku mersaku cemburu dengan harapan kamu akan berhenti tidak melakukannya lagi. Jumlah rasa sakit itu seolah semakin bertambah meningkat tanpa bisa dihentikan saat aku tidak bisa memberitahukanmu jika aku sedang mersakan kecemburuan.

Sebenranya Aku Sangat Ingin Kamu Menenangkan Perasaanku Saat Aku Merasa Cemburu
 
Memberitahukanmu jika aku sedang mersa cemburu sebenarnya aku juga sangat ingin kamu menenangkan hatiku, meyakinkan hatiku bahwa kecemburuan itu tidak benar dan dihatimu hanya ada aku saja. Aku sangat ingin kamu mengatakan hal itu jika aku sedang merasakan kecemburuan.
 http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/cemburu-itu-sulit-untuk-dijelasin.html

Kalau Tidak Benar-benar Mencintaiku Tolong Jangan Beri Aku Harapan

Bagimu mencintai mungkin adalah sesutu yang sederhana tapi aku tidak seperti mu bagiku mencintai seseoran itu tidak sederhana dan tidak sesederhana seperti kamu mencintai diriku atau mungkin orang lain. Bagi kua atau mungkin bagi sebagian besar wanita ini segala sesuatu yang dilakukan pada pria itu adalah bentuk dan wujud dari cinta mereka pada orang yang dicintai. 


Banyak wanita termasuk diriku berbuat baik memang karena pada dasarnya ingin membantu, tapi baik karena benar-benar ingin membantu dan baik karena cinta itu berbeda. Memperlakukan orang karena cinta dan rasa kemanusian itu tetap berbeda dan dapat diberbedakan. Padamu aku baik karena memang atas dasar kemanusian dan atas dasar aku mencintai kamu tapi pada mereka aku baik bukan karena cinta hanya atas dasar kemanusian.


Tidak bisakah kamu membedakannya? Atau mungkin kamu sebenarnya tau tapi pura-pura tidak tau karena mersa butuh pada ku atau karena ingin mepermainkanku. Padamu jika memang kau tak benar-benar mencintaiku tolong jangan beri harapan apapun padaku.

Aku Butuh Kejelasan Tentang Hubungan yang Sedang Kita Jalani
 
Selalu bersama dan merasa bahagia disampingmu rasanya tidak cukup bagiku sebelum aku tau apakah kamu sama sepertiku menginginkan kamu sampai kita bisa membangun keluarga kecil yang akan membuat kita tertawa bahagia dan sedih bersama.

Sikapmu Membuatku Memaknai Kamu Masih Menginginkanku
 
Jika kamu masih sama memperlakukanku dengan baik dan penuh perhatian itu tetap saja membuat diriku memaknai kamu tetap memberi harapan padaku. Aku tidak bisa mundur dari mencintai kamu jika kamu masih bersikap baik padaku.

Beritahu Aku Jika Hubungan Kita Akan Ada Masa Berakhirnya
 
Tak bisa mundur dari mencintai kamu itu tidak berarti aku tidak bingung dan bimbang dan bertanya-tanya apakah hubungan kita akan selamanya berjalan seperti ini atau berakhir dengan baik.

Jangan Ajak Aku Membayangkan Bahagia Jika Pada Akhirnya Tidak Bersama Kamu
 
Kau menjanjikan aku bayangan-bayangan bahagia, mengajakku bermimpi tentang banyak keindahan di masa depan tapi mengapa kau tak pernah berani dimana sebenarnya kamu berdiri. Aku tidak tau ajakanmu melihat kebahagian itu apakah hanya sekedar mengelabuhiku agar tak bertanya mengenai hubungan kita yang masih abu-abu.

Butuh Kejelasan Itu Tidak Berarti Kita Harus Segera Menikah
 
Mengapa takut untuk memperjelas untuk mengatakan ‘aku ingin menikahimu’, mengapa takut untuk ku pertemukan dengan keluargaku? Meraka tidak akan memaksamu sesegera mungkin menikahiku.
 http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/kalau-tidak-benar-benar-mencintaiku.html

Aku Bahkan Takut Menyakiti Kamu, Tapi Mengapa Kamu Memanfaatkan Cintaku

Aku tidak tau apa salahku pada kamu, aku tidak tau apa dosaku padamu. Yang aku tau aku jatuh cinta padamu, yang aku tau aku merasa nyaman bersamamu berbagi dengan mua. Tapi mengapa kamu begitu menakutkan, mengapa hatimu sekeras batu, mengapa hatimu tidak melunak dengan kebaikan dan ketulusan cinta yang aku berikan. 

Mengapa besar cinta dan ketulusanku untuk kamu bukan membuatmu iklas mencintaiku dan nyaman ada bersamaku. Kubantu sama-sama membangun masa depan mengapa malah membuatmu semakin sadis menyakitiku. Padahal selama bersama mu aku selalu mencoba mengerti, mencoba mengalah dan selalu mengerti kamu karena aku takut aku akan menyakiti perasaan mu.


Cinta Itu Menyakitkan Sebesar Aku Menginginkan Kamu
 
Tidakku sangka jatuh cinta pada mu itu menyakitkan, aku juga ak.tak pernah menyangka jika pada akhirnya aku akan sesakit ini karena menicintai kamu. Aku mengira pada akhirnya aku akan bahagia karena selama ini sekalipun kamu tak pernah menyakitiku. Tapi kenapa pada akhirnya kamu dengan mudahnya berpaling dengan mudahnya menyakiti.


Jatuh Cinta Padamu Aku Bahkan Sampai Lupa Pada Diriku Sendiri
 
Aku sibuk memperjuankan kamu dan masa depanmu, ku bantu kamu menata masa depanmu sendiri agar menjadi mapan, sampai-sampai aku lupa masa depanku. Kubantu kamu bangkit kembali dari setiap kegagalan yang kamu hadapi, aku bahkan berpura-pura tegar dan mengajakmu semangat kembali meski sebenarnya aku tidak yakin. Sengaja ku buat waktuku untuk lebih banyak bersamamu agar kamu tidak merasa terpuruk. Demi kamu bahkan aku rela meninggalkan keluarga dan teman-temanmu. Demi membantumu sengaja aku tak melakukan hal-hal yang ku suka karena ku pikir masa depanmu juga untukku.


Tak Ku Sangka Kamu Adalah Orang Jahat yang Mendebarkan Jantungku
 
Rupanya kamu hanya menggunakan topeng cinta untuk mendapatkan banyak hal yang menguntungkan bagi hidupmu. Rupanya kamu adalah orang jahat yang mampu berwajah manis. Tapi entahlah mengapa aku bisa tidak tau dan tak dapat melihatnya, entahlah aku juga tidak dapat mengira mengapa hatiku berdegub kencang saat melihatmu sampai-sampai sedikitpun bahkan untuk berhayal sesuatu yang buruk tentang kamu itu tidak pernah muncul dalam pikiranku.

Ternyata Kamu Masih Tidak Tau Cinta, Kamu Hanya Tahu Dirimu
 
Keliru sungguh aku keliru menyangka kamu adalah orang yang baik hati yang benar-benar mendekati diriku karena cinta, bukan karena apa-apa yang ada pada diriku. Kamu tidak pernah melihat cinta dalam diriku kamu hanya ingin memanfaatkan cintaku untuk dirimu. Kamu tidak pernah peduli dengan diriku kamu hanya peduli akan dirimu dan masa depanmu.

Aku Banyak Memberi Tapi Aku Tidak Menerima Apa-apa
 
Aku sadar dan pada akhirnya aku mulai banyak berhitung sudah berapa banyak yang telah aku berikan pada dirimu untuk membahagiakan kamu. Bukan hanya uang yang kubuang sia-sia kuberikan pada kamu, aku bahkan banyak membuang waktuku untuk melakukan banyak hal yang tidak kudapat untuk diriku sendiri. Aku banyak membuang banyak kesenangan dan ke sukaan ku untuk kuberikan pada kamu. Dasar memang kamu yang tak tidak pandai bagaimana harus berterimakasih.

 Sumber : http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/aku-bahkan-takut-menyakiti-kamu-tapi.html

Pergilah dan Berlalu. Kesetiaanku Terlalu Berharga untuk Pengkhianat Cinta Sepertimu

Kemana saja kamu selama ini? Setelah semua kekacauan yang kamu perbuat dengan mudahnya kamu menghilang tanpa jejak, tak ada kata maaf terucap untuk semua khilaf. Lalu setelah semua berhasil aku perbaiki dan kumulai mempercayakan diri untuk jatuh cinta lagi pada sosok lain tanpa malu, kau malah kembali. Kau kembali dengan alasan telah menyesali semua perbuatan dimasa lalu. Katamu, kau masih mencintaiku. 

Katamu kau tak bisa hidup tanpaku, tapi sampai detik ini kau masih saja hidup dengan baik-baik saja bukan? Dimana semua kata-kata yang kau ucapkan? Berjanji tak akan melukai dan mengkhianati. Tapi nyatanya kau bermain api dibelakangku. Dia kah yang lebih baik dariku? Dia kah yang kau sebut lebih mengerti kamu? Lalu kenapa kau sekarang datang lagi dengan menyesali semua perbuatanmu.



Dengarkan aku! Sekali lagi dengarkan baik-baik kataku! Tidak ada yang bisa dibenarkan dari semua perbuatanmu, terlebih kau memilih untuk berselingkuh dibelakangku, berbagi cinta dan mengkhianati aku. Tak cukupkah aku bagimu? Tak pantaskah aku mendapatkan kesetiaan darimu?
 
Telah kuserahkan semua yang menjadi milikku, bahkan hatiku telah kurelakan rapuh karenamu. Mataku tak pernah sekalipun berpaling memandang selain kamu, telinga ini tak pernah untuk mendengarkan selain suaramu, tanganku pun tak pernah menggenggam selain tanganmu. Namun aku tak bisa paksa kamu tuk tinggal di sisiku, kamu yang telah siksa aku dengan segala perbuatanmu.


Pergilah, pergi jangan lagi kau sesali yang terjadi karena aku bisa tanpa kamu. Tak usah kau ragu, aku rapuh tanpamu. Tapi bersamamu pun aku tak mampu jika masih saja kau berselingkuh.

Jadi lupakan aku, bawa kembali semua sesalmu dan ribuan maaf dari mulutmu. Aku ingin lebih baik tanpa kamu. Jangan lagi kau tawan hatiku, aku bukanlah budak cintamu. Bebaskan aku, biarkan aku kembali menemukan cinta selain kamu. Karena kau tak pantas bagiku.

Kesetiaanku terlalu berharga untuk pengkhianat cinta seperti kamu. Aku tak perlu lagi semua penjelasan darimu, karena semuanya sudah berlalu. Sudah ku maafkan semua kesalahmu, pergilah jangan ganggu aku.

Kini telah kutemukan dia sebagai penggantimu, dia yang mampu berjuang untukku, dia yang mampu meredakan luka hatiku karenamu. Dan dia bukanlah kamu, dia tak pernah berjanji untuk tidak melukaiku, dia juga tak pernah bersumpah mati untukku, bahkan dia tak mampu membawakan rembulan ke hadapanku. Tapi setidaknya dia tak sepengecut kamu, yang berani pergi membagi hati dan tega melukai. Dia tak sepertimu, semoga tak sepertimu.
 Sumber : http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/pergilah-dan-berlalu-kesetiaanku.html

Jarak Bukanlah Halangan Bagi Kita yang Punya Alasan untuk Bertahan

Aku meletakkan cangkir putih bercorak bunga sakura itu dan memandang ke arahmu yang sedang sibuk berkutat dengan laptop. Wajahmu terlihat sangat serius sembari membaca setiap email yang masuk. Berpikir sebentar lalu jari-jemarimu mulai merangkai kata. Sebuah senyuman kecil tersimpul di bibirku. Aku membatin dalam hati. Betapa tingginya tuntutan pekerjaanmu tidak menghalangimu untuk terbang menghampiriku di sini. Lalu, aku kembali menyeruput teh yang masih terasa hangat-hangat kuku itu. 
Tak lama kemudian, kamu menutup laptop dan melayangkan senyum lebar kepadaku diiringi dengan sebuah rangkulan kecil pada pundakku. Percakapan untuk saling bertukar rindu pun kembali dilanjutkan. Tatapan mata dan sentuhan yang tak dihalangi oleh jarak. Pertemuan yang setiap hari selalu aku nantikan.

Perjalanan asmara kita jelas memupuk rindu yang tak berkesudahan. Banyak tantangan yang mencoba keras untuk mendobrak masuk, menyelinap ke dalam, dan mengutak-atik kontak rasa antara kita. Sederet pengorbanan dan perjuangan terpatri hampir di setiap alurnya. Tapi, toh, kita tetap bertahan.


“Perjalanan ini memang tidak mudah. Tapi, hubungan ini memberikan pelajaran yang bermakna untuk kita.”

Kepercayaan menjadi tonggak utama yang menopang beratnya bentangan jarak antara kita.
Apa yang sedang kamu lakukan di sana? Dengan siapa kamu pergi? Aku hanya bisa berpegang pada setiap kata yang kamu utarakan. Ya, hanya itu saja. Begitu pun sebaliknya.

Kepercayaan merupakan fondasi dasar bagi kita untuk membangun hubungan ini dari bawah. Tanpa kepercayaan, semua ini tidak akan ada artinya.

Aku tak akan berbohong. Puluhan kali rasa curiga menyelimuti hatiku. Keraguan atas ucapan yang kamu sampaikan. Ketidakyakinan atas fakta yang tidak dapat aku lihat. Semua itu aku alami.

Tapi, percuma saja hidup dengan penuh ketakutan, bukan? Tak ada gunanya memelihara pikiran negatif dan membiarkan diri ini dilingkupi oleh kekhawatiran yang belum tentu benar. Jadi, tak perlu aku berasumsi dan menebak-nebak sesuatu yang tidak pasti. Karena segala sesuatunya akan terbukti sendiri suatu saat nanti. Saat ini, aku hanya perlu percaya saja.


“Membangun kepercayaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan menghancurkan kepercayaan itu hanya sesingkat sebuah kejapan mata.”

Sesibuk apapun aktivitas kita, komunikasi tetap harus terjaga. Hal inilah yang akan memperkokoh rasa antara kita.
 
 
Perbedaan aktivitas yang dijeda oleh jarak menjadikan komunikasi bukanlah perkara kecil. Ya, benar. Urusan sesederhana saling bertukar kabar bisa menjadi pemicu perselisihan yang berujung besar. Kesalahpahaman itu ibarat hal yang sudah lumrah terjadi.

Namun, aku dan kamu tetap harus saling mengerti. Toleransi dan saling menghargai perlu dijunjung tinggi. Segala ganjalan yang menggantung di dalam hati akan kita sampaikan dengan kepala dingin. Saling berdiskusi dan memahami keinginan masing-masing demi mencapai titik temu yang kita sepakati.

Karena kita sama-sama belajar. Komunikasi penuh emosi tidak akan membuahkan hasil yang kita kehendaki. Kita perlu bersabar dan tetap menjaga perasaan masing-masing pribadi.
“Komunikasi itu ibarat oksigen dalam sebuah hubungan. Karena kepercayaan dapat hidup jika ada komunikasi yang terbina dengan baik.”

Walau masalah datang silih berganti, tapi komitmen yang sama membuat kita tidak menyerah dan berhenti.
 
Selalu ada pengorbanan. Selalu ada perjuangan. Ini memang tidak mudah. Tapi, menjalaninya bersamamu tidak membuat hubungan ini terasa begitu berat.

Kita berselisih, kita berdebat. Ada kalanya pula aku merasa gerah. Hubungan yang minim kontak langsung ini tentu menyimpan segudang tantangan.

Tapi, kita tidak menyerah. Karena komitmen yang sama menjadi tempat kasih kita bermuara dan tempat kaki kita kembali berpijak. Kita tahu ada sesuatu yang akan kita tuju di akhir jalan ini.

“Kesamaan visi dan misi yang telah kita rajut bersama dari awal. Komitmen inilah yang menjadi benang inti dalam hubungan kita.”
 
 
Kita menghentikan langkah kaki kita di sini. Kamu berdiri menghadapku dan menatap lekat mataku. Ada sesuatu yang tersirat dari caramu memandangku. Aku memahaminya tanpa perlu ada translasi ke dalam kata. Kita berbincang singkat dan saling memberikan pelukan hangat. Lalu, kamu membalikkan badan dan mulai berjalan menarik kopermu, menjauhi tempatku berdiri dalam diam.

Aku hanya mampu menatap punggungmu. Aku menghela napas dan tersenyum. Jarak dan waktu kembali menjadi penghubung antara kita. Rindu kembali menjadi penghias kisah kita.
 
Kejujuran dan kesetiaan kita sedang diuji saat ini. Tapi, aku akan bersabar. Hingga nanti saatnya semesta menyatukan kita.

"Sebab ini bukan hanya soal rasa yang membuncah dari dalam dada. Namun, juga soal cita yang ingin kita perjuangkan bersama. Bukankah begitu, sayang?”
 
 Sumber : http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/jarak-bukanlah-halangan-bagi-kita-yang.html