Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 September 2016

Ayah, Bunda.. Pernah Melihat Sandal Ini Ditoko-toko, Mulai Saat Ini Berhentilah Menggunakannya, Kalau Tidak Maka Seperti Ini Dampak Pada Anakmu

Netnit.net - Sebagian situs kesehatan melaporkan kalau Tv Jerman telah menguji sandal dengan bahan ini dan akhirnya begitu mengagetkan. Sandal itu mengandung formamida, bahan kimia beracun dan bersifat karsinogenik yang bisa masuk ke badan lewat kulit. Bahan sandal ini semacam dengan bahan tikar puzzle yang juga kerap dipakai di beberapa tempat tinggal.
Berbentuk murninya, formamida yakni zat kimia yg tidak berwarna dan kental, berbau amonia enteng, mudah larut di air dan gampang masuk badan lewat pernapasan atau penampakan kulit. Zat beracun itu ditambahkan sepanjang system manufaktur untuk buat busa lebih lentur dan empuk.
Coba c1um aromanya, dalam keadaan sandal masihlah baru aroma kimia bakal terc1um begitu menyengat.
Formamida yakni zat berbentuk karsinogenik, karsinogen adalah zat yang menyebabkan penyakit kanker. Beberapa zat karsinogen menyebabkan kanker dengan merubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam beberapa sel badan hingga mengganggu beberapa system biologis.
Sebagian situs kesehatan seperti Timefornaturalhealthcare, Healthylifevision dan Healthyfoodadvice menyimpulkan bahaya pemakaian sandal itu juga lantaran hidrokarbon aromatik polisiklik yang diketemukan di dalamnya. Enam dari sepuluh sandal yang diuji diketemukan mengandung senyawa di tingkat yang lebih tinggi. Dianjurkan, untuk orang yang sangat terpaksa memakai sandal beresiko itu hendaknya memakai kaus kaki.
Banyak orangtua yang membelikan sendal seperti ini untuk anak-anaknya. Sayangi anak anda, pakaikan kaus kaki tiap-tiap menggunakankan sandal itu pada si kecil, atau lebih baik ditukar dengan sandal yang lebih terjamin keamanan bahannya
Sekianlah berita kali ini ” Anak Anda Termasuk juga yang Memakai Sandal Seperti Ini ” mudah-mudahan bisa berikan faedah dan penambahan wawasan pada anda dan terima kasih atas kunjungan anda, Serta Janganlah lupa berikan info ini ya.
sumber : solusisehat

Ketika Kejahatan Makin Merajalela, Perlukah Muslimah Belajar Bela Diri?


Netnit.net - Di jaman masa kini, berbagai kegiatan yang kerap dikerjakan kaum perempuan pun berubah dalam bentuk, rasa dan gayanya. Namun intaian kejahatan tak banyak berubah ketika dia mengancam di rumah atau di luar rumah, di siang pun malam hari. Dari mereka yang kita kenal, dan apalagi yang tidak kita kenal. Maka berbekal untuk membela diri dari segala tindak kejahatan adalah sebuah keniscayaan.

Kejahatan terjadi setiap hari dalam beragam bentuk. Mulai dari yang “ringan” seperti hinaan kata-kata, gambar atau suara, hingga kejahatan kelas “berat” macam perampokan, p3rk0s4an dan pembunuhan dan lain sebagainya.  

Meski kejahatan akan mengancam siapa saja, laki-laki, perempuan, orang tua, anak-anak, orang kaya, orang miskin, penduduk kota, penduduk desa, namun khususnya pada  perempuan, anak-anak dan orangtua, ancaman kejahatan menjadi berkali lipat dibanding pada kaum lelaki, apalagi yang sudah dewasa, muda dan segar  bugar.

3 golongan ini menurut kriminolog Erlangga Masdiana, MA dikenal dalam khazanah ilmu kriminologi sebagai potensial victim atau korban kejahatan yang paling potensial karena umumnya mereka lemah secara fisik dan jarang memiliki kemampuan melakukan self protective, upaya pertahanan atau perlawanan diri.

Lemah, demonstratif, uncertain

Tak hanya itu, jelas Erlangga lagi, beberapa hal yang juga bisa memicu seseorang untuk berlaku jahat adalah manakala ada faktor-faktor pendukung seperti tempat yang sunyi atau gelap serta si calon korban sendiri bertindak demonstratif atau tanpa teman atau nampak dalam kondisi uncertain (nampak ragu-ragu, takut-takut atau kebingungan-red) atau karena paduan beberapa sebab ini sekaligus.

“Misalnya saja perempuan yang mengenakan pakaian-pakaian seronok, atau terlalu terbuka pada orang lain, atau menampilkan perhiasan-perhiasan atau kelihatan kebingungan akan mudah dijadikan sasaran kejahatan. Bukan saja mereka ini lebih mudah dieksploitasi secara harta atau secara fisik, mereka juga bisa misalnya lebih mudah dihipnotis,” urai Ketua Umum Institut Jujitsu Indonesia ini lagi.

Mengapa penampilan perempuan menjadi salah satu faktor pemicu kejahatan pula? “Karena perempuan itu kan memang pada dasarnya secara fisik menarik bagi lelaki. Sehingga tindak kejahatan yang bisa terjadi pada perempuan memang lebih, tidak hanya karena faktor hartanya misalnya tapi juga karena faktor fisiknya,” ungkap Erlangga.

Dan karena ketertarikan lelaki pada fisik perempuan ini didukung juga oleh kondisi fisik lelaki yang umumnya lebih kuat dan sikap mereka yang umumnya lebih terbuka dan dominan dalam bertindak, maka perempuanlah yang lebih banyak mengalami eksploitasi s3ks atau tindak kejahatan s3xu4l harrastment (pelecehan s3ksual).

Pencegahan yang utama

Cegah sebelum terjadi  memang merupakan ungkapan klise namun ternyata sangat efektif untuk meminimalisir terjadinya tindak kejahatan pada diri seseorang. Apalagi bagi orang-orang yang tergolong potensial victim, tindakan pencegahan terjadinya kejahatan harus selalu didahulukan. Syukur-syukur kemudian mereka juga bisa memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri saat mengalami tindak kejahatan.

Bagi perempuan, selain misalnya sadar akan kondisi potensial victim ini, meminimalisir segala unjuk kelemahan, kebingungan dan perilaki-perilaku demonstratif lain, mengikuti norma, adab atau nilai-nilai agama juga termasuk salah satu faktor penguat dalam meminimalisir kemungkinan terjadinya tindak kejahatan.

“Perlu diketahui, dari beberapa data soal p3rk0s4an, diketahui bahwa 80% kasus terjadi di dalam ruangan, atau di dalam rumah dan dilakukan oleh orang-orang yang dikenal korban. Maka, perempuan memang perlu selalu aware akan keselamatan dirinya termasuk dengan menjaga adab-adab, akhlak dan tindakan-tindakan pencegahan sederhana lainnya. Misalnya membiasakan diri tidur dengan kamar terkunci, jendela tertutup, serta mengikuti norma-norma yang ada, seperti kalau dalam agama, memperhatikan soal penampilan terhadap muhrim atau non muhrim,” ayah enam anak ini lagi.

Mungkin ada orang yang berpikir, mengapa harus perempuan yang repot membatasi dan menjaga diri? Jawaban mudahnya, semua manusia jelas harus menjaga diri dan mengikuti norma, tetapi setiap kita toh bertanggungjawab atas keselamatan diri masing-masing dan hanya bisa mengendalikan diri masing-masing. Maka bicara keselamatan perempuan, tentu perempuan sendirilah yang paling pertama dan utama harus memiliki kesadaran dan upaya menjaga keselamatan dirinya sendiri.

Fitnah berujung sukses atau gagal

Masih dalam konteks penjagaan diri, dalam ajaran Islam sendiri, perempuan –serta anak-anak dan harta- memang disebut sebagai fitnah, satu kata yang menurut Ustadzah Nurhamidah Lc, MAg, banyak memunculkan salah pengertian dari orang yang mengartikannya berdasarkan pemahaman bahasa Indonesia yang lebih mengarah pada konteks negatif semacam petaka.

Padahal, jelas Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Al Qudwah, Depok ini lagi, kata fitnah yang dikaitkan pada perempuan, harta dan anak dalam bahasa Arab ini bermakna sebuah ujian.

“Karena bermakna ujian ini, maka sifatnya adalah proses, bukan hasil. Berarti ujungnya bisa sukses atau gagal. Bisa menghasilkan pahala atau dosa.

Bisa membawa ke surga atau neraka. Dan untuk menjalaninya ke arah keberhasilan memang dibutuhkan sebuah pensikapan dan perilaku yang benar.”

Maka, karena diri perempuan adalah sebuah ujian, bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi kaum lelaki, bagi para pemimpin bangsa, maka bagaimana setiap orang yang terkait dengan seorang perempuan bersikap, bertindak, bertuturlah yang akan membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan, kebaikan atau kejahatan, buah pahala atau dosa.

“Agar hasilnya positif masing-masing pihak harus berbuat sesuai dengan landasan nilai Islam yang menjadi pengarah. Misalnya saja kita ambillah dari salah satunya, penuntun kegiatan sehari-hari dari surat An-Nur,” jelas ibu dua anak pehobi travelling ini.

Pertama misalnya, tuntunan Islam dalam bergaul misalnya adalah dengan menundukkan pandangan. Nurhamidah menjelaskan, “Jangan salah mengartikan dengan memalingkan muka, melengos, karena justru yang seperti ini bisa bikin salah paham atau membuat orang terpicu untuk ngisengi karena tersinggung. Tapi menundukkan pandangan adalah menjaga pandangan kita, melihat wajah tanpa harus bersitatap mata terus menerus. Kenapa? Karena sebagaimana pepatah, dari matalah bisa berlanjut hal-hal berikut, baik yang bersifat kebaikan maupun kejahatan.”

Kedua, dengan menjaga faraj yang konteksnya berkaitan dengan menjaga aurat dengan memakai pakaian. Pakaian seperti apa? Bukan yang sekadar tertutup aurat, jelas Nurhamidah lagi, namun belajar dari surat Al-Araf 26, pakaian itu haruslah menutup aurat sekaligus memperhatikan keindahan.

“Perhatikan modelnya, bagaimana warnanya, matching-nya bagaimana, supaya bukan sekadar nutup tapi juga nampak rapi, anggun dan menghindari fitnah bagi orang lain. Misalnya nih, karena kita abai dengan hal ini, maka orang yang melihat akan gagal mensikapi karena terpicu berkomentar; ih baju apaan tuh, kayak karung beras. Nah, itu kan sebuah pelecehan juga.”

Ini juga bisa berlaku pada mereka yang auratnya tertutup namun tidak sempurna, sehingga tetap nampak lekuk tubuhnya saking ketatnya pakaian atau membayanglah tubuhnya karena tipisnya bahan yang digunakan.

Ketiga, Nurhamidah menjelaskan bagaimana surat An-Nur juga bicara soal kemahraman, bagaimana setiap muslim perlu memperhatikan batas-batas penampakkan auratnya dan batas-batas pergaulannya pada mereka yang mahram dan bukan mahram.

“Dalam pergaulan misalnya, kita harus menghindari ikhtilat. Tapi apa itu ikhtilat? Bukan berarti perempuan dan laki-laki tidak boleh bertemu atau bersama-sama beraktivitas atau bekerjasama. Tapi ikhtilah adalah bercampur, sebagaimana saya mencampur air, teh dan gula menjadi minuman teh manis yang sudah tidak jelas lagi mana teh, mana gula, dan mana airnya,” papar lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir jurusan ilmu hadits ini pula.

Bekali diri dengan bela diri

Selain faktor pencegahan, memiliki bekal keterampilan bela diri pun baik bila untuk  jadi pilihan para perempuan demi menambah kemampuan mereka menjaga dan menyelamatkan diri. Bentuk dan jenis bela dirinya bisa macam-macam, sepanjang dia benar-benar merupakan sebuah seni bela diri yang berlandaskan pada keterampilan. Baik olah fisik secara keseluruhan, olah nafas atau olah tenaga.

“Sebab, tidak sedikit tawaran bela diri yang ujung-ujungnya menggunakan hal-hal yang tidak masuk akal, yang mistis dan pada akhirnya bisa berakhir pada syirik. Misalnya , kalau sudah level tertentu para peserta akan ‘diisi’ sehingga bisa menjatuhkan lawan, menggeser benda dari jauh, atau diberi ‘jimat-jimat’ tertentu yang diyakini akan menambah keterampilan, ilmu atau kekebalan. Ini jelas terlarang, syirik namanya,” tegas Nurhamidah.

Bahkan mengkeramatkan ayat-ayat Quran tertentu pun terlarang. “Misalnya saja orang yang berkata kalau baca ini, misal iyyakana’budu wa iyya kanastaim, atau bismillah atau ayat-ayat lain, maka musuh kita akan mental, terdorong, jatuh. Nah itu berarti kita mengandalkan ayat itu sebagai kekuatan, dan itu adalah bentuk lain jimat, syirik. Maka menjadi beda tipis memang antara orang yang menggunakan ayat Qur’an untuk bertaqarrub kepada Allah dan untuk menjadi jimat penambah kekuatan,” sambung perempuan kelahiran Jakarta 33 tahun lalu ini.

Karena itu, saran Nurhamidah, pilih teknik bela diri secara seksama, yaitu betul-betul bersifat mengasah keterampilan fisik.

Begitupun perlu diingat bahwa sebagaimana namanya bela diri hanya sekadar untuk membela diri di saat diperlukan, dan karenanya lebih bersifat pertahanan yang simptomatik, menghilangkan gejala atau tindakan-tindakan kejahatan saat sudah terjadi. Karena menurut Erlangga Masdiana, yang terbaik tetap melakukan pencegahan kejahatan.

Terakhir namun paling utama ingatlah bahwa tiada kebaikan atau kejahatan bisa menimpa kita kecuali semua berada di dalam kekuasaan Allah swt semata. Karena itu, Nurhamidah mengingatkan kepada para perempuan untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya pelindung kita.

“Pencegahan, bela diri, senjata, apapun juga hanya sebuah ikhtiar. Allahlah yang akan menjaga diri kita. Maka hanya kepada Allahlah kita mohon perlindungan, kita minta penjagaan bahkan kita minta bantuan manakala datang musibah menimpa diri kita.”

Maka jangan kita merasa cukup puas dengan kemampuan bela diri kita, atau sebaliknya hilang keteguhan diri saat berhadapan dengan situasi sulit tanpa punya bekalan senjata atau teknik bela diri, karena sesungguhnya Allah lah sumber segala kekuatan. Wallahu’alam. (Zirlyfera Jamil/wawancara Dina dan Rahmi)

Semoga artikel ini menjadi inspirasi para wanita agar bisa mempertahankan dan menjaga diri dari kejahatan yang mengintai setiap saat.
sumber : tolongshareya

Kamu Pasti Menangis Setelah Baca Kisah Nyata Penyesalan Sang Suami Kepada Istri (Setelah Istri Meninggal Dunia)


Netnit.net - Nina dan Herman adalah sepasang suami istri yang telah menjalani hubungan pacaran 10 tahun lamanya. Akhirnya mereka menikah dan menjalani bahtera rumah tangga sebagaimana orang lainnya. Di tahun pertama, kedua dan ketiga, kisah cinta ini begitu manis. Apalagi keduanya dikaruniai seorang putra bernama Lilo.

Tahun keempat rumah tangga Nina dan Herman mulai terasa agak berat. Mengasuh anak menjadi hal yang harus mereka pelajari bersama. Namun berbekal dukungan orang tua dan rasa cinta mereka, apapun selalu ada solusinya dan mereka bisa melewati masa sulit tersebut.

Beberapa tahun berlalu hingga Lilo sudah menginjak kelas empat SD. Mengasuh satu anak hingga sebesar ini rupanya membuat Herman ingin memiliki anak lagi. Namun Nina agak menolak, dengan alasan masih ingin mengecek ke dokter perihal kondisinya.

Namun kondisi ini beberapa kali terjadi hingga setengah tahun lamanya. Membuat Herman sedikit berpaling dari Nina. Apalagi di kantor, ada seorang sekretaris baru yang membuat Herman merasa nyaman bernama Jenny. Sedikit demi sedikit Jenny mulai menguasai pikiran dan hidup Herman. Membuatnya jarang pulang tepat waktu dan membuat Nina heran.

“Kok sering pulang telat, Mas?” tanya Nina.

“Lembur..” Herman menjawab pendek sambil mengganti pakaiannya. Ia sebenarnya masih mencintai Nina, namun di sisi lain ia makin dekat dengan Jenny. Ia merasa hubungannya dengan Nina hambar serta membosankan akhir-akhir ini. Kali ini bukan karena Nina menolak punya anak lagi, namun kesibukan Nina dan Herman membuat pria ini merasa jarak mereka makin jauh dan Nina seolah tak melihat hal itu sama sekali.

Kehidupan pernikahan Nina dan Herman makin menjemukan. Nina makin bekerja keras dalam karirnya sehingga fokusnya seringkali hanya pada anak dan karir. Nina memang lebih pendiam setelah Lilo masuk sekolah, tapi Herman pikir mungkin hal ini disebabkan oleh keperluan anak mereka yang makin banyak. tetapi sebenarnya Nina menyimpan rahasia yang agak dalam, karena tidak mau suaminya sampai bersedih. Ia benar-benar sangat menjaga perasaan suaminya. Sesekali hubungan Nina dan Herman menegang oleh pertengkaran-pertengkaran kecil. Herman sering pulang malam dan Nina mulai curiga dengan apa yang dilakukan Herman di luar rumah.

“Aku kerja. Aku kan juga nggak pernah protes ketika kamu pulang malam, Nina,” kata Herman dengan nada tinggi.

“Kamu berubah, Mas. Kerja juga nggak mungkin pulang malam terus kan?” Nina membalas.

Herman mendengus sebal dan menyahut, “Kamu tanya saja sendiri pada dirimu, kenapa aku jadi nggak betah. Kamu terlalu sibuk dengan karirmu, aku juga bisa kalau begini caranya.” Ia sebenarnya sakit mengucapkan hal ini pada Nina. Namun emosinya sudah lama tertahan dan kali ini ia merasa muak pada omelan istrinya.

Jenny juga mulai berani mempengaruhi Herman untuk menceraikan istrinya. Awalnya Herman ragu, namun makin sering ia dan Nina bertengkar di belakang anaknya. Hal ini mulai membuat Herman merasa tidak nyaman. Ia pun mulai menyampaikan keinginannya untuk bercerai. Tentu saja hal ini membuat Nina hancur setengah mati. Ia menolak perceraian itu karena tidak ingin Lilo merasakan keluarga yang retak dan tentu saja perceraian adalah hal yang sangat dibenci Allah SWT.

Namun Herman makin menghancurkan hatinya karena menyodorkan surat pengajuan cerai beberapa hari setelah ia menyampaikan keinginannya itu. Semalaman Nina memandangi surat cerai terhampar di meja kerjanya, sementara Herman tidur dengan tidak nyenyak di ranjangnya. Keesokan paginya, Nina menyerahkan surat itu pada Herman dengan mata sembab karena sesekali berdoa sambil menangis meminta petunjuk kepada Allah SWT, hingga belum tidur semalaman. Ia berfikir tidak ada gunanya ia marah ataupun kecewa, karena tugas seorang istri dalam Islam adalah untuk mentaati suaminya dan mencoba bersabar dengan segala ujian yang diberikannya.

Ia sadar betul sesungguhnya Allah-lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Allah memberikan petunjuk kepada yang Dia

kehendaki ataupun juga menyesatkan kepada siapa yang Dia kehendaki, seperti firman Allah:

” Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash : 56)

“Aku akan menandatanganinya setelah 30 hari. Dalam 30 hari itu, aku ingin Mas selalu menggendong aku dari ranjang ke meja makan untuk sarapan setiap pagi. Juga dari ruang keluarga ke kamar tidur setiap malam,” ujar Nina dengan suara setengah serak seperti orang yang semalaman belum tidur.

Herman agak aneh dengan permintaan istrinya, namun ia tetap menyanggupi permintaan itu. Ia pikir istrinya hanya ingin mengulur waktu cerai dan membuat Herman kembali. Mendengar cerita itu, Jenny sedikit menertawai ulah Nina. “Ada-ada saja. Setelah kondisi seperti ini, baru istrimu merajuk untuk bisa kembali.”

Begitulah, sesuai janjinya, Herman selalu menggendong Nina setiap pagi dan malam. Ia bisa merasakan Nina lebih bersandar padanya, namun di sisi lain Herman berpikir bahwa Nina mungkin juga sedang menikmati momen-momen akhir bersamanya. Sebentar lagi Herman tetap akan menceraikannya dan membawa Jenny dalam kehidupan barunya.

Pemandangan romantis antara Nina dan Herman membuat Lilo kadang bersorak pada kedua orang tuanya itu. “Wah, papa mama romantis banget,” ujarnya girang. Hal ini membuat Herman sedikit berbesar hati., namun ia meneguhkan dirinya agar tak mudah ternakan suasana Sementara Nina hanya tersenyum penuh makna sambil bergelayut di leher suaminya ketika digendong.

Diam-diam, Herman merasa istrinya makin kurus dari hari ke hari. Setiap gendongannya terasa makin ringan. Herman memandangi wajah istrinya sesekali ketika menggendongnya sembari mengecup keningnya. Nina nampak lelah belakangan ini, kantung matanya sering kelihatan membesar dan ia sering menyandarkan kepalanya ke dada Herman. Hal ini membuat Herman mulai ragu dengan keputusannya bercerai, ada kehangatan merasuk di dadanya setiap kali menggendong Nina.

Tanpa terasa, Herman mulai merasakan cinta kembali bersemi pada hubungannya dengan Nina. Ia merasa istrinya makin cantik dari hari ke hari, hingga hari-hari penandatanganan surat ceri itu makin dekat. Saat Herman hendak menggendong Nina di pagi hari ke 31, Nina menahan tangan Herman.

“Kan hari ini sudah lewat. Kamu nggak perlu gendong aku lagi, Mas.” Herman tersenyum saja dan membawa Nina ke meja makan. Ia menyajikan sarapan lalu mengecup kening Nina, “Sarapan aja, Nina. Selamat pagi.” Begitulah Nina dan Herman menghabiskan sarapan mereka dengan lebih hangat dan mesra. Namun di akhir sesi sarapan, Nina memberikan surat cerai yang sudah ditandatangani dan dibungkus amplop.

“Ini, Mas. Terima kasih selama ini sudah mencintaiku,” ujarnya sambil menitikkan air mata. Herman terpana, namun surat itu diterimanya lalu sebelum berangkat ke kantor, Herman memeluk Nina.

Di kantor, Herman mengatakan pada Jenny bahwa ia mengurungkan niatnya bercerai. Tentu saja wanita itu begitu kesal dan menampar herman keras-keras. Herman tahu dengan konsekwensi ini, ia siap menerimanya karena sejauh ini ia dan Jenny belum sampai berhubungan badan. Ia bersyukur masih bisa mengendalikan dirinya selama ini dari berzina.

Sekarang yang ada di benaknya adalah Nina. Ia masih ingat dengan bulir air mata Nina yang hangat jatuh di tangannya tadi pagi. Herman merasakan cinta itu dan tak sabar ingin segera pulang. Ia bahkan menyempatkan diri membeli buket bunga paling indah kesukaan Nina dan bergegas pulang sore itu.

Sesampainya di rumah, Herman memanggil-manggil nama istrinya. Namun ia tak juga mendengar jawaban. Hingga ia melihat Nina di kamarnya, tidur dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya tadi pagi. Namun saat Herman mendekatinya, Nina sudah tidak bernyawa lagi. Herman tidak percaya, bagaimana mungkin Nina bisa meninggal? Ia menggoncang-goncang tubuh dan wajah Nina sambil memanggil namanya.

Kepergian Nina menjadi penyesalan yang tak terperi bagi Herman. Rupanya selama ini Nina mengidap penyakit parah yang tak sempat disampaikannya pada Herman. Di kala istrinya itu tengah memikirkan sendirian dan berjuang melawan penyakitnya, Herman malah sibuk dengan rencana perceraian mereka. Nina dimakamkan keesokan harinya, diiringi rasa sedih dan duka dari Herman dan putra mereka, Lilo.

“Dan sebagian dari dari tanda-tanda kebesaran Nya adalah Dia menciptakan pasangan–pasangan bagi kalian dari jenis kalian, agar kalian merasa tenang pada pasangan kalian dan Dia menjadikan diantara kalian rasa kasih sayang dan cinta. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda – tanda bagi orang-orang yang berfikir.”(QS. Ar-Ruum: 21)

sumber : dakwahpedia

Mention Suami mu Bunda! Masih Adakah Suami Seperti Kisah ini,,,

Netnit.net - Seorang pria beristeri tanpa sengaja berkenalan dengan seorang gadis dinsebuah kantin kompleks perkantoran, karena ada urusan pekerjaan merekapun tukeran PIN BB.

Setelah itu mereka sering berhubungan melalui BBM dan telepon, sesekali juga janjian pergi makan siang bareng.

Hari-hari berlalu, tiada hari tanpa kontak antara mereka. Sampai suatu hari, si gadis BBM, isinya adalah :

"Mas... Sebenarnya aku mencintaimu , aku tau kamu udah punya keluarga, tapi aku mau menerima kondisi sebagai isteri ke-2, aku siap mas dan maaf aku mengganggu perasaanmu.

Dengan berat hati pria itu menjawab : "Dik, aku mengerti dan paham maksudmu... tapi dengan berat hati aku harus jawab TIDAK! Aku tau kamu memang cantik, dan aku yakin semua lelaki pasti mengatakan tubuh dan parasmu elok dan cantik.

Tapi, tahukah kamu kenapa aku bisa tampil baik dan hingga usahaku sukses? Itu semua karena dorongan dan semangat isteriku.

Sungguh sangat berdosa kalau aku harus berselingkuh dengan seseorang yang hanya mengagumiku, karena tau kalau aku sekarang udah sukses.

Kamu menyukai aku tidak ikhlas, kamu hanya melihat tampilanku semata.
Padahal ada seseorang yang tersayang di rumah yang telah bersusah payah mendorong aku agar selalu tampil sebaik mungkin, dia adalah isteriku tercinta.

Kalau kamu menyukai aku, artinya kamu tinggal memetik hasilnya, dan cara ini tidak pernah abadi.
Taukah kamu bahwa aku memulai ini dari nol dan isteriku yang selalu mendampingiku di kala susah, terpuruk dan sukses seperti ini.

Taukah kamu bahwa isteriku yang selalu mendoakan kesuksesanku hingga aku bisa menjadi seperti ini. Kamu memang cantik, tapi hati isteriku lebih cantik.

Terima kasih atas cintanya, maaf aku tidak bisa membalas seperti kehendakmu.

Wahai pria, sanggupkah kau seperti kisah di atas ??

semoga bermanfaat...
sumber : mediaonline

Menjadi Gemuk Setelah Menikah Itu Artinya Pernikahannya Bahagia

Netnit.net - Pernah berpikir bahwa bahwa kegemukan di usia dewasa dan paruh baya adalah salah satu tanda kesejahteraan. Ternyata anggapan ini bukan omong kosong, terutama bagi orang yang telah menikah. Penelitian menemukan bahwa menjadi gemuk setelah menikah artinya pernikahannya bahagia.
Setelah memantau sekelompok pengantin baru selama 4 tahun, para peneliti menemukan bahwa semakin bahagia seseorang dengan pernikahannya, maka semakin besar pula kemungkinan meroket berat badannya.
"Sudah cukup diterima secara luas bahwa pernikahan itu sendiri dikaitkan dengan penambahan berat badan dan perceraian dengan penurunan berat badan," kata peneliti Andrea Meltzer, asisten profesor psikologi di Southern Methodist University.
Dalam penelitian ini, Meltzer merekrut 169 pasangan muda. Kesemuanya sudah menikah selama 6 bulan, lalu dipantau selama 4 tahun. Para suami rata-rata berusia 25 tahun, sedangkan istrinya 23 tahun. Informasi mengenai kepuasan pernikahan dan berat badan pasangan dikumpulkan dalam 8 kesempatan yang berbeda.
Hasil analisis menemukan bahwa kepuasan pernikahan berhubungan positif dengan kenaikan berat badan. Pasangan yang lebih puas dengan pernikahan cenderung bertambah berat badannya, sedangkan pasangan yang kurang puas cenderung menyusut berat badannya.
Hubungan ini tetap ada walaupun sudah memperhitungkan faktor kehamilan pada istri. Walau demikian, penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Society for Personality and Social Psychology ini tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat.
Meltzer berspekulasi, pasangan yang kurang puas dengan pernikahan tidak bertambah berat badannya karena memikirkan perceraian. Karena tidak puas dengan pernikahan, pasangan lantas mencoba menjaga berat badannya agar tetap ideal dengan tujuan menarik pasangan baru.
Orang yang sudah selesai dengan urusan mencari jodoh jadi tak lagi peduli lagi dengan berat badannya. Menurut Meltzer, startegi pemeliharaan berat badan dimotivasi sebagian oleh keinginan untuk menarik pasangan. Efek ini berlaku baik pada pria maupun wanita.
"Untuk setiap unit peningkatan kepuasan yang ditemukan, baik pada salah seorang atau kedua pasangan, terjadi peningkatan indeks massa tubuh (IMT) rata-rata sebesar 0,12 setiap 6 bulan," kata Meltzer.
Misalnya seorang wanita dengan tinggi badan 165 cm dan berat 54 kg memiliki IMT 20,6. Jika berat badannya bertambah 0,7 kg, maka IMT nya akan meningkat menjadi sekitar 20,7. Setelah 4 tahun, rata-rata peserta penelitian masih dalam kisaran berat badan yang sehat. Namun entah apa yang terjadi 4 tahun berikutnya.
sumber : 7cahayaislam

Suami Dipenjara Gara-gara Foto Selfie Istrinya, Perhatikan Lampu Hias di Belakang Wanita Ini

Netnit.net - Lantaran ulah istri yang memposting foto selfie, seorang suami kembali masuk penjara. Dan hal ini dialami oleh aktor India, Sanjay Dutt. Tampak dalam postingan di akun media sosial, sang istri yang cantik berpose di sebuah ruangan. Foto ini kemudian menjadi kontroversial lantaran nampak ada yang janggal dalam foto tersebut.
Maanyata Dutt, sang istri yang berambut panjang dalam foto pertama nampaksedang berdiri di depan sebuah sofa. Dalam foto keduanya, iaduduk di sofa. Sedang pada foto ketiga, Maanyatakembali berdiri dengan pose foto yang berbeda. Ia mengenakankemeja warna putih dancelana panjang warna emas.
Persoalannya bukan di pose dari Maanyata dalam foto yang diunggahnya diakunInstagram tersebut. Ini berkaitan dengan catatan kriminal Sanjay, ia barukeluar dari penjara pada Febuari lalu. Ia dipenjara lantarankepemilikan senjata api ilegal. Ia pun dihukumselama lima tahun penjara. Ia juga dituduhterlibat kejadian bom Mumbai tahun 1993. Namun akhirnya, iadibebaskan dari tuduhan terlibat kejadian bom itu oleh pengadilan TADA tahun 2007 silam.Sanjay Dutt juga dituduh menggunakan pengaruh untuk meninggalkan penjara secara bersyarat. Ia bisa lega setelah akhirnya bebas padaFebuari 2016 lalu.Masa tahanannya dikurangi karena Sanjay dinilai berkelakuan baik selama di penjara.
Namun ulah istrinya membuatnya tersandung.Sanjaya Dutt kembali dijebloskan ke dalam penjara setelah istrinya memposting foto. Hal ini karenabenda yang terlihat pada lampu hias di belakang dirinya.Terang saja, tiang dari lampu itu berbentuk sebuah senapan.
Perlu diingat, selama lima tahun Sanjay Dutt mendekam di penjara karena kepemilikan senjata ilegal.Jika memang benar lampu itu dibuat dari senjata sungguhan, tentu ini menjadi malah besar bagi Sanjay Dutt.
sumber : berantai

Bunda, Jangan Tinggalkan Anakmu di Rumah demi Mengejar Karir

Netnit.net - Mantan Biarawati yang saat ini memeluk agama Islam, Ustadzah Irena Handono mengingatkan kepada para Muslimah khususnya para Ibu rumah tangga untuk memberikan perhatian khusus dalam mendidik anak, mendidik anak di era seperti ini dibutuhkan ekstra pengawalan. Ekstrimnya, jika perlu dari tidur hingga bangun tidur kita memantaunya.
“Ibu banyak meninggalkan pekerjaan utamanya mengurus anak. Andai memiliki baju bagus, tapi baju tersebut diletakan di lemari pembantu, bagaimana perasaannya? Tentu tidak ikhlas, bukan?” ujar Ustadzah Irena dalam sebuah kajian “Wahai Bunda Didiklah Aku dalam Islam” yang dibawakan oleh Pengasuh Majlis Ta’lim Al-Muhtadin dan Forum Komunikasi Lembaga Pembina Muallaf.
Kondisi saat ini menurut Ustadzah Irena banyak para ibu jauh bagi anak, bahkan seolah “tidak ada”, untuk mengurus anak saja seorang ibu saat ini sudah membutuhkan baby sitter.
Mantan biarawati keturunan Thionghoa ini menitipkan pesan moral para para ibu tentang mendidik anak. Ia menganalogikan seorang anak bagaikan gaun yang sangat mahal dan mesti dijaga super ketat.
“Mahal mana, gaun dengan putra dan putri kita yang dipercaya oleh baby sitter? Anak jangan dititipi oleh orang yang ‘tidak terpelajar” Tanya Ustadzah Irene.
Ustadzah Irena menyebutkan amanah orangtua di dalam al-Qur’an. ”Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu Wata’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” ujarnya mengutip Surat At-Tahrim: 6.
Karenanya, para orangtua disarankan memperhatikan ayat ini agar terus termotivasi jauh dari neraka. Sebab pengikisan agama terjadi secara perlahan karena pengaruh budaya dan pola pikir.
Anak-anak harus dijauhkan dari pergaulan yang bukan dari ajaran Islam, orangtua juga harus diberitahu dengan cara memberi keteladanan.
Harus disadarkan bawah orangtua yang “meninggalkan” anaknya di rumah dengan alasan bekerja adalah tidak benar dan resikonya tidak kecil bagi rumah tangga.
“Orangtua harus disadarkan. Keliru jika wanita bekerja di kantor atau pabrik. Sebab Ibu Rumah tangga itu pekerjaan mulia dan pendidikan yang utama,” ujarnya menambahkan.
sumber : perlutau

Istri Yang Suka Ngomel Ternyata Baik Untuk Kesehatan Suami

netnit.net - Ketika sepasang kekasih telah memutuskan untuk menikah, dipastikan keduanya ingin memiliki kehidupan keluarga yang bahagia, saling peduli satu sama lain dan hidup dengan tenang serta nyaman bersama. Tapi, keluarga bahagia dan hidup nyaman menurut penelitian justru bisa meningkatkan risiko penyakit khususnya diabetes untuk pasangan. Lebih sedih lagi, hubungan yang bahagia akan meningkatkan risiko diabetes lebih besar buat pria atau suami. 
Dikutip dari laman asiantown.net, hubungan pernikahan bahagia dan perlakuan yang menyenangkan dari istri akan meningkatkan risiko diabetes buat suami. Sementara itu, istri yang suka ngomel, sering marah-marah dan banyak maunya justru akan membuat suami sangat rendah berisiko diabetes alias menjadi lebih sehat. 
Walau dikatakan istri yang suka ngomel ternyata baik buat kesehatan suami, hal ini tidak menjamin bahwa suami dengan istri yang suka ngomel akan baik-baik dan selalu sehat lho ya. Tetap ada masa di mana imun tubuh suami menurun dan ia pun mudah terserang sakit. Apalagi, jika suami mengalami stres berat akibat sering kali diomeli oleh istrinya. Para ahli menemukan bahwa suami yang sehat karena istri suka ngomel adalah suami yang sering kali diomeli dengan omelan kepedulian sang istri. 
Sebuah studi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia baru-baru ini menyebutkan bahwa suami akan memiliki kesehatan yang baik ketika ia memiliki istri yang suka ngomel dan kehidupan pernikahannya kurang menyenangkan untuknya. Ketua penelitian yakni Dr Hui Liu mengungkapkan bahwa istri yang suka ngomel justru merupakan seseorang yang begitu peduli dengan suami. Ketika istri ngomel, kebanyakan hal itu disebabkan karena ia begitu peduli dengan suami dan ia ingin yang terbaik buat suami. Saat istri suka sekali ngomel, pola hidup suami bisa dijaga dan ditata dengan baik. 
Sementara itu, untuk suami yang memiliki kehidupan sangat bahagia dengan istri yang tidak suka ngomel, ini memungkinkan suami lebih mudah terserang diabetes. Studi yang dilakukan pada 1.228 pria yang sudah menikah dan berada di rentang usia 57 sampai 58 tahun ditemukan bahwa hampir 389 pria menderita risiko diabetes. 
Dari sekian banyak pria yang menderita diabetes ini, sebagian besar dari mereka memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia dan nyaman. Dan biasanya, pernikahan yang bahagia serta istri yang nggak suka ngomel lupa bahwa gaya hidup yang dijalani selama ini kemungkinan besar salah serta meningkatkan risiko diabetes, obesitas hingga kanker. 
Well, buat para suami yang kebetulan punya istri suka ngomel, cobalah untuk bersyukur karena penelitian menyebutkan istri yang suka ngomel baik buat kesehatan suami. Pada dasarnya, istri yang suka ngomel adalah seseorang yang peduli dengan suami dan selalu ingin melihat yang terbaik dari suami. Termasuk melihat suami menerapkan pola hidup sehat dan jauh dari berbagai masalah kesehatan khususnya masalah diabetes. Semoga, informasi ini bermanfaat...
sumber : bacabagikan

Alasan Kenapa Foto Pre-Wedding Di HARAM kan Di Islam


Sebarkan Di Facebook Teman  - Menjelang acara resepsi pernikahan, biasanya foto pre-wedding sepertinya sudah menjadi keharusan dilakukan calon mempelai wanita dan calon mempelai pria.

Foto-foto tersebut nantinya digunakan untuk mempercantik atau menghiasi souvenir pernikahan mereka atau kartu undangan, dan bisa juga dijadikan sebagai penghias ruangan pernikahan.

Menggunakan latar belakang (background) yang begitu apik, dan gaya pose yang begitu mesra antara kedua mempelai, serta latar atau tempat yang indah merupakan beberapa aspek yang sangat dominan dalam pembuatan foto pre-wedding.

Makanya, tidak jarang pula mereka melakukan sesuatu yang menurut syariat Islam belum diperbolehkan, karena belum ada perjanjian atau ijab kabul antara kedua mempelai. Seperti melakukan pose berangkulan dan sebagainya.

Tanpa harus dijelaskan secara detail, jelas bahwa melakukan foto pre-wedding hukumnya haram. Alasannya, di sana terdapat hal-hal yang mungkar (keharaman), seperti membuka aurat, percampuran antara pria dan wanita yang belum mahramnya, melihat aurat lawan jenis, dan persentuhan antara keduanya. Semuanya biasa dilakukan saat proses pembuatan foto pre-wedding.

Dalam Alquran dan hadis juga sudah diterangkan mengenai batasan-batasan atau etika pergaulan antara pria dan wanita yang bukan mahramnya.

Bahkan, sekedar memandang aurat juga diharamkan. Aturan ini diterapkan karena untuk mencegah kemungkaran yang ditimbulkan oleh pandangan. Penyebabnya, banyak sekali perbuatan mungkar yang diawali dari pandangan.

Ada pepatah mengatakan bahwa pandangan adalah panah setan yang tidak pernah meleset dari sasaran. Dengan demikian, tidak hanya calon mempelai wanita yang terkena hukum haram, namun bagi fotografer itu sendiri juga terkena hukum haram.

Umumnya fotografer melihat dan bahkan menyentuh bagian anggota tubuh pasiennya utnuk menata dandanan agar lebih indah dan menarik.

Pembuatan foto pre-wedding tetap dibolehkan asalkan dalam proses pelaksanaannya tidak bertentangan dengan agama dan tidak mengandung unsur perbuatan mungkar.

Bisa dilakukan dengan cara kedua calon mempelai melakukan pengambilan foto secara terpisah, atau dilakukan setelah akad nikah dilaksanakan.






Sumber : tribunnews

"Menikah Tanpa Cinta" Mempunyai Efek Buruk,....Mau Tau??


Sebarkan Di Facebook Teman  - Mungkin Anda pernah mendengar cerita orang tua yang mengatakan, "Kami dulu menikah tanpa cinta, tetapi akhirnya kami saling mencintai setelah menikah,". Sudah jadi rahasia umum bahwa puluhan tahun lalu, banyak pernikahan terjadi karena perjodohan, paksaan (karena wanita tidak boleh menolak) dan sebagainya. Sehingga pernikahan berlangsung tanpa rasa cinta.

Umm.. apakah konsep seperti ini masih berlaku di masa kini?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pemikiran menikah dengan cinta atau menikah dengan cinta belakangan. Hanya saja, pernikahan adalah momen yang sakral, saat kita memutuskan hidup selamanya dengan orang lain. Apakah kecocokan atau bahkan paksaan cukup untuk menjalani pernikahan yang seharusnya berlangsung seumur hidup?

Ada beberapa risiko pernikahan yang dilakukan tanpa cinta, khususnya di masa kini. Inilah beberapa di antaranya...

Lebih Banyak Godaan

Menikah karena terpaksa atau sekedar "Ya sudahlah, kami sudah saling cocok dan dikejar umur," membuat banyak pasangan mengalami goncangan, bahkan di awal masa pernikahan. Godaan pihak ketiga sangat besar. Bisa dari mantan pacar, atau dari orang baru yang dirasa lebih cocok dan dianggap sebagai jodoh karena tumbuhnya cinta. Banyak pernikahan berakhir karena hadirnya orang ketiga yang lebih bisa memberikan cinta dan kenyamanan. "Untuk apa setia dengan dia, aku tidak mencintainya," itulah alasan yang sering diucapkan.

Kehidupan Rumah Tangga Hambar dan Tidak Bahagia

Pada akhirnya, pernikahan hanya sekedar melayani suami. Suami sekedar bekerja dan memberi nafkah istri. Anda dan dia akhirnya merasakan ada yang hambar dalam kehidupan sehari-hari. Rutinitas itu dilakukan hanya sebagai melaksanakan kewajiban semata. Akibatnya, banyak pasangan mengalami kebosanan dan tidak bahagia. Akibatnya, kembali pada efek nomor satu, godaan pihak luar sangat mungkin merusak pernikahan tanpa cinta.

Sering Bertengkar

Tanpa cinta, seringkali tidak muncul kompromi antara suami istri. Saling bertahan dengan pendapat masing-masing, saling merasa benar, tidak mau mengalah, akhirnya pertengkaran menjadi makanan sehari-hari. Hidup tidak akan nyaman dengan adanya pertengkaran. Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan dan kenyamanan dalam bentuk cinta. Jika cinta itu tidak datang dari pasangan, lalu harus didapat dari mana?

Anak Merasakan Dampaknya

Jika pasangan sudah memiliki anak, maka pernikahan tanpa cinta yang tidak bahagia akan memberi dampak pada anak. Jangan remehkan kemampuan anak memahami apakah kedua orang tuanya saling mencintai atau tidak. Anak akan belajar mencintai dimulai dari rumah, mereka bisa memahami apakah kedua orang tuanya saling mencintai atau tidak hanya dari percakapan sehari-hari. Jika pernikahan diisi dengan banyak pertengkaran, anak bisa tumbuh tidak bahagia dan membuat anak bersikap dingin saat dewasa.

Menikah dengan atau tanpa cinta, mana yang akan Anda pilih?