Jumat, 21 Oktober 2016

Ikhlas Cintamu Meyakinkanku, Bahwa Jarak antara Kita Berdua Ini Pasti akan Terhapus

Sore ini cerah, secerah saat kita berdua dipertemukan setelah dua semester kita diuji jarak. Bus sekolah kuning pucat yang gagah ini, dengan para penumpangnya yang terlelap nyenyak, atau sibuk dengan ponselnya, mendengarkan lantunan musik lewat sepasang earphone-nya dan juga sepasang muda yang girang bercengkrama tentang kemudaan, selalu senantiasa mengantarkanku ke kampus gudang ilmu. 


Semua menjadi pemandangan rutin dalam sekotak kendaraan beroda 4 ini. Aku yang berdiri tepat di pintu bus, hanya mampu menikmati biru langit dengan vertikal hijaunya jejeran pohon rindang lewat kaca jendela yang mengernyit saat melewati jalanan yang ‘tak rata. Sinar matahari senja yang berani menerobos kaca-kaca bening ini, menyapa wajah lelahku, membuatku menutup mata sejenak, membiarkan ia menghangatkanku.





Dalam pejam netra sekejapku, sosokmu kembali muncul. Suara tawa ringanmu saat itu, tatapan tajam sepasang bola matamu dan lambaian tangan itu, semua mengacaukan batas antara kenangan dan kenyataan. Menguatkan dan melemahkan dalam satu saat yang bersamaan.

Saat dimana aku merasa punya segalanya namun aku berupaya beranjak menjauh dari itu semua. Saat dimana aku ingin menolak apa yang selama ini aku panjat doakan. Berat langkah kakiku menuju. Berat tatapan mataku beralih adu. Hingga basah terasa di ujung mata sayu, menyadarkanku bahwa aku telah ‘tak lagi di situasi itu.

Garis cakrawala samar terlihat mencoba melawan lekuk menawan siluet pemandangan senja sore di langit negara matahari terbit ini. Jauh kumelihat di balik tipis pembatas dunia itu, “Sedang apa kau disana?” Tanyaku lirih.


Liku labirin waktu dan jalan terjal telah kita lalui. Suka senang, gelak tawa, rindu kepercayaan, saling dukung dan topang, canda tingkah polah laiknya bocah, amarah, dendam, cemburu, curiga, selingkuh, khianat, diam, hilang perhatian, lupa janji jenuh akan diri masing masing, semua kita cicipi, kita rasai. Merusak dan saling memperbaiki. Terputus lagi dan saling menyambung diri. Menghilang dan saling menemukan. Melemah dan saling menguatkan. Meninggalkan dan saling menantikan.
 
Tanpa sadar, kubelajar akan makna kesetiaan yang selama ini aku ‘tak tahu menahu indahnya itu, semua darimu. Meski melibatkan banyak kaummu dan kaumku sebagai peran penting di setiap sekuel lembar cerita roman kita. Darimu, aku belajar menghargai sesuatu yang ‘tak bernilai menjadi sesuatu yang tak ternilai.


Setiba di halaman sekolah, kuambil sepedaku yang tangguh, ku kayuh ia mengantarku pulang ke peraduan. Kini ku bisa merasakan asli sepoi angin senja hari. Sambil mendengarkan lagu kesukaan kita, kembali kunikmati sosokmu yang ‘tak lebih dari bayangan semu.


Silau cahaya senja dengan lugas menerpa semua bagian tubuhku, memaksaku untuk sedikit menyipitkan sepasang mata kecil ini, ah…semua ini terlalu indah kulalui tanpamu, gumamku. Sempat terpikir andai bisa kucuil senja yang romantis ini, kubungkus dan ku bawa terbang untuk kupersembahkan padamu. Hingga bisa menciptakan bayang sosok kita berdua.

Wajah-wajah pribumi mengisi pemandangan sepanjang jalan kembaliku. Segala gurat garis di paras mereka, menyadarkanku bahwa kini ku ‘tak lagi membutuhkan cermin waktu untuk ku mengetahui pantulan usia dan beda dalam setiap jiwa yang hidup. Mengingatkanku, bahwa ‘tak lama lagi angka usia ini bergeser.


Dan untuk kedua kalinya, akan kulewati tanpamu, di sini. Meski kutahu kita saling meluangkan waktu di satu malam, untuk menyebut nama masing-masing dalam lantunan doa yang seakan menghapus jarak samudera liar di sana.


Kasih, tahukah kau? Ikhlas cintamu yang ‘tak berkemas indah dan menawan, namun rasa tunggal itu telah selalu menghantarku sebatang kara ke negeri sebrang ini. Meyakinkanku, bahwa sederhana rasa kita memegahkan segala usaha jerih payah. Memantapkanku, bahwa jauh jarak ini terasa terhapus berkat gigih perjuanganmu merangkulku dengan keanggunan tingkah laku kelelakianmu.


‘Tak seperti Chairil yang mengurungkan niat ungkapkan rasa saat ia jatuh cinta pada Sri Ayati di masa mudanya, kepribadianmu yang latif nan lembut dalam memperlakukan ku sebagai perempuan terindah, membuatku merasa sangat beruntung dilahirkan sebagai kaumku, dan Sri Ayati ‘tak seberuntung aku di masanya.

Ujian bertubi ‘tak lelah berhenti, menerpa niat istiqamah ini. Namun yakin diri berikrar, cambuk ruang dan waktu ini menguatkan semua yang rapuh dan ragu. Memondasi dan saling memperbaiki. Meniang kokoh dan saling mempercayai. Menembok rapat dan saling menjagai. Mencipta atap dan saling melindungi.


Kasih, tunggu aku di situ. Kelak ku akan kembali ke rangkul hangatmu dan gores seribu kisah anyar nan apik di tiap lembar perkamen roman kita, dan hanya kita. Cengkrama deretan huruf berjejer kita, bak rantai yang menembus bingkai jarak, erat saling mencengkram, ‘tak berjarak ‘tak berputus.
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/ikhlas-cintamu-meyakinkanku-bahwa-jarak.html
 

Atas Nama Ketidakberdayaan, Kita yang Tak Seiman Harus Saling Melepaskan Genggaman

Aku tidak tahu sejak kapan keresahan itu melanda jiwa kita. Jarum jam yang melaju kita lewati dengan langkah yang ragu-ragu. Ada semacam rasa khawatir luar biasa yang tak kunjung reda di dalam dada: Perbedaan kita, mampukah kita buat tiada? 
 
 
Kita sama-sama tahu, bahwa saat ini kita hanya menjalani kebersamaan semu yang terlalu rapuh. Sebab, suka tidak suka, mau tidak mau, kita akan sampai di persimpangan yang memaksa kita untuk mengambil jalan yang berlainan. Bukan berdampingan. Sebab, dalam perbedaan kita, terkandung janin perpisahan yang bisa lahir kapan saja tanpa kita bisa menolaknya.
 
 
 
 
Harusnya kita bersyukur atas pertemuan ini. Tapi mengapa Tuhan menuliskan takdir dengan akhir yang getir?
 
 
Aku takut. Kamu juga kalut. Kita mendadak menjadi manusia yang pengecut. Masing-masing dari kita mulai menyalahkan pertemuan yang menciptakan cinta dan luka dalam satu paket yang sama. Tapi, bukankah menyalahkan pertemuan berarti juga menyalahkan Tuhan? Dan itu bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan oleh manusia seperti kita.
 
 
Justru seharusnya kita bersyukur atas pertemuan yang telah diciptakan oleh tangan yang Maha Kuasa. Sebab pertemuan kita telah merajut hal-hal indah yang kelak akan kita kenang dengan senyuman. Meski begitu, barangkali tetap ada hal yang sangat disesalkan: Mengapa Tuhan juga menuliskan takdir dengan akhir yang getir?
 
 
Kata mereka “Amour Vincit Omnia”. Bahwa cinta mengalahkan segalanya. Tetapi bagi kita, cinta begitu tak berdaya ketikas berhadapan dengan satu kenyataan Tuhanku dan Tuhanmu berbeda.
Kita mengerti tidak ada pertemuan yang berjalan abadi tanpa ada perpisahan yang kelak terjadi. Mungkin, bukan kehendak Tuhan untuk mempersatukan setelah mempertemukan. Dan kita yang tak punya daya tak lagi bisa berbuat apa-apa selain dengan tega membunuh cinta atas nama ketidakberdayaan jiwa.
 
 
 
Mungkin yang mereka katakan itu benar adanya. Cinta yang terpaut perbedaan iman adalah sebuah ujian.
 
 
Sejak awal, kitalah yang terlalu egois. Memaksakan diri untuk saling menautkan hati meski kita tahu ada batas yang tidak akan mampu kita lalui. Lantas atas nama perasaan yang berbunga-bunga kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Hingga kita sampai pada waktu di mana kita sadar, bahwa kita tidak bisa selamanya menipu diri. Bahwa kita butuh kepastian.
 
 
Kita yang terlanjur berbeda akan membawa cinta ini kemana? Aku yang berlari menujumu, atau kamu yang mengikutiku? Walau bagaimanapun juga, kebersamaan kita terlalu rapuh. Tetapi kita belum siap untuk menjauh.
 
 
Jika kita mau jujur, cinta yang kita coba pertahankan tak kan sebanding dengan cinta yang Tuhan kita berikan. Mungkin benar apa yang mereka katakan, bahwa cinta yang terpaut perbedaan iman adalah sebuah ujian apakah kita lebih mencintai Tuhan atau justru berbalik meninggalkan.
 
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/atas-nama-ketidakberdayaan-kita-yang.html

Aku Masih Bernafas Meski Tanpamu, Karena Mencintai Diriku Sendiri itu Lebih Penting dari Apapun

Dia, merajut memori dalam diam. Kesunyian ini begitu memekakkan telinga. Dalam hati, mengetahui secara pasti bahwa kenangan hari ini akan menjadi satu lagi ingatan traumatis. Ia hanya diam dan aku menoleh. Bagaikan bernafas dengan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.



Hatinya seluas samudra. Awalnya, aku jatuh cinta dengan dengkuran lembut dan detak jantungnya yang begitu hidup dan begitu dalam. Baru kusadari betul bahwa aku bukanlah satu-satunya ikan di zona neritiknya.


 
 
Aku tahu betul, sejak aku berusia 5 tahun bahwa mencuri mainan dari anak lain bukanlah hal yang terpuji. Mainan pertama yang kucuri dari temanku adalah boneka anjing yang sudah bau lembab. Aku tidak pernah mencuri mainan yang masih baru dan mengkilap. Begitu pula orang yang sekarang ini duduk di sampingku.

Entah sudah berapa banyak orang yang pernah menghirup aromanya di dalam mimpi indah yang tak berkesudahan. Entah seberapa banyak kartu As yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Entah sudah berapa kali kakiku melangkah maju hendak menutup halaman terakhir dari kisah cinta kita.


Apakah momen krusial ini menjadikanku orang yang buruk? Apakah rasa bersalah karena tidak meninggalkannya sejak awal akan menuai cemooh orang lain? "Tidak." Jawabku samar di antara lamunannya. Aku bergegas pergi dan pulang ke rumahku sendiri. Tersenyum tipis seperti hujan gerimis di siang hari yang terik. Lebih membenci diriku yang sekarang ini, memutar kembali miliaran ingatan seperti proyektor usang yang terbengkalai.


Telepon genggam bergetar dalam saku jaketku. Sepuluh pesan masuk kudapati dari sahabatku. Tidak ada satupun pesan dari dirinya. Aku masih berharap. Pukul sebelas malam. Aku masih berharap. Tengah malam lewat lima menit. Aku masih berharap. Pukul tiga subuh, mataku belum terpejam.
Pertengkaran kami seabstrak lukisan Picasso. Aku masih mengharapkannya memecah kesunyian di tengah perang dingin ini. Berharap dia akan membuat lelucon garing khas dirinya.


Diam sejenak, aku merasa bahwa rohku mengapung di dalam kesepian yang absolut. Aku tertidur setengah jam kemudian.
 
Aku terbangun pukul tujuh pagi. Menatap layar handphone yang berpendar. Dua puluh pesan selama aku tertidur pulas. Semuanya dari sahabatku. Aku bergerak malas dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurku. Membaca semua pesan yang tertinggal dari para sahabatku. Seketika aku merasa lega. Aku bernafas pelan. Seumur hidupku, belum pernah diriku merasa serileks ini.


Ibuku memberiku roti tawar untuk sarapanku. Ayahku meminum secangkir kopi pahit tanpa gula. Kakak-kakakku bersenandung pelan dan menggosok gigi di wastafel. Aku termenung sembari mendengar irama hujan yang terdengar seperti ratapan. Mereka menanyakan keaadanku. Teman-temanku tidak berhenti mendengarkan celotehanku. Aku kembali ke kamarku sendiri, mengambil pena dan menulis lagu diatas kertas bergaris.

"Apa kabar?" Pesannya muncul di layar handphone. Aku tidak membacanya. Aku meneruskan tulisanku. Aku tidak pernah merasa sebersyukur itu dalam hidupku. Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Teman-temanku menopangku dengan nasehat dan candaan mereka yang efektif membuatku bangkit dari kesedihanku. Mereka tidak mencelaku.


Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Keluargaku mengisi hari-hariku. Dalam hati berjanji bahwa aku tidak akan lagi mengejar ilusi. Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Lirik demi lirik yang kutulis, akord dari laguku yang kususun melalui gitar akustikku yang berusia 6 tahun. Seniman hebat yang menginspirasi diriku melalui karya mereka.

Aku masih bernafas.
Aku masih bernafas.
Aku masih bernafas.
Mungkin memang tidak semua cerita cinta berakhir bahagia. Sejak awal aku tidak pernah ingin tahu apa yang terjadi di novel The Notebook. Mungkin memang tidak semua cerita cinta berakhir tragis. Tirai tidak pernah menutup di dunia nyata. Dengan kekuatanku yang baru, aku bergegas menyisir rambutku dan memakai setelan terbaikku.


Kami pernah saling mencintai. Kami pernah mengalahkan dunia bersama-sama seperti dalam film superhero. Rasa benciku kepadanya sebesar rasa cintaku kepadanya. Namun apa yang bergerak pergi tak bisa kita dihindari.

Aku belajar bahwa mencintai diri sendiri dan mencintai apa yang kita miliki jauh lebih penting dibandingkan menginginkan bintang yang terlalu jauh untuk diraih. Aku belajar bahwa kesalahanku tidak menjadikanku orang yang buruk. Aku belajar bahwa hati manusia tidak akan pernah terlalu besar untuk memaafkan. Aku belajar bahwa kita tidak akan bebas dari masalah hidup. Dengan mantap, aku mengambil langkah kecil namun pasti.
Aku masih bernafas.
 
http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/aku-masih-bernafas-meski-tanpamu-karena.html
 

Cemburu itu Sulit Untuk Dijelasin, Rasanya Sedih, Nyesek Dan Cuma Bisa Dirasain Dan Dipendam

Kecemburuan lahir karena adanya rasa memiliki dalam diri masing-masing. Ketika orang yang kita sayang memberikan perhatian kepada orang lain, rasa cemburu itu akan muncul. Dalam batas-batas tertentu cemburu itu memang perlu untuk menunjukkan adanya rasa cinta. 


Tapi sungguh rasanya cemburu itu tidak enak meskipun tidak dimakan. Karena membuat kita tidak bisa mengendalikan diri. Rasa cemburu ini akan semakin meledak-ledak kalau dia malah gak peduli kalau sebenarnya kita sedang mersa cemburu. Aku benci mersa cemburu, karena membuatku membencimu lalu semakin mencintaimu melebihi hari sebelum-sebelumnya. Kamu juga tahukan bagaimana rasanya cemburu itu? Jika tidak aku ingin memberitahukanmu.


Beginilah Gambaran Singkat Rasa Cemburu yang Sangat Susah Untuk Dijelasin Itu
 
Memang sulit untuk menceritakan tentang rasanya cemburu itu seperti apa. Tetapi biasanya akan timbul perasaan, Gelisah, Menyesal, Putus asa, Marah, yang bersatu menjadi satu rasa, yaitu rasa sakit. Saat cemburu dunia ini rasanya begitu sesak dan sempit dan tidak ada tempat yang nyaman nuntuk ditempati.

Aku Ingin Memberitahukanmu Begini Rasanya Kalau Aku Sedang Merasa Cemburu Padamu Semoga Enggkau Bisa Mengerti
 
Rasanya, sesak, sepi, tenang tapi galau. Lalu..? aku ingin melukaimu! tapi secara bersamaan aku ingin memelukmu. Setelah itu rasanya aku ingin berteriak di depan mukamu tapi secara bersamaan aku ingin menangis di bahumu. Rasanya aku ingin menyudahi hubungan ini tapi aku tidak bisa melepaskanmu.
Ada Kesedihan yang Begitu Mendalam Ketika Kamu Tiba-Tiba Mendiamkanku Seribu Bahasa Tanpa Alasan yang Aku Mengerti
 
Ketika kamu tiba-tiba mendiamiku karena tahu aku mersa cemburu, saat itu juga kesedihanku bertambah menjadi berjuta kalilipat. Marah, malu, ingin bertanya, tidak percaya tapi butuh kejelasan. Dijelaskan tapi tetap tidak percaya seperti itulah rasanya saat kamu tiba-tiba diam ketika aku mersakan cemburu

Entah Cemburu Buta dan Karena Memang Ada Sebab Rasa Cemburu Itu Sama Saja Rasanya Tak Ada Bedanya
 
Tidak peduli aku yang terlalu berlebihan atau memang aku melihat kamu sedang berjalan, tersenyum dan memberikan perhatian pada orang lain, rasa cemburu itu sama saja. Sama-sama sakit dan begitu menyiksa dan terus membuatku ingin marah-marah dan marah lagi. Hatiku begitu sakit ketika mendengarmu berbicara bersama orang lain. Detak jantungku bertambah cepat ketika melihatmu lewat di hadapanku. Darah ini rasanya bergerak cepat ketika aku tahu kamu tertawa dengan seseorang yang bukan diriku. Cemburu itu tidak mengenal jenis yang pasti rasanya sama-sama sakit, kecewa dan segalanya yang menyakitkan.

Namun Rasa Cemburu Itu Terasa Semakin Tajam Mengiris Hati Ketika Aku Tidak Dapat Memberitahukanmu Kalau Aku Merasa Cemburu Padamu
 
Ketika rasa cemburu itu datang aku sangat ingin segera memberitahukanmu, aku sangat ingin kamu tahu kalau aku tidak suka kamu melakukan hal-hal yang bisa membuatku mersaku cemburu dengan harapan kamu akan berhenti tidak melakukannya lagi. Jumlah rasa sakit itu seolah semakin bertambah meningkat tanpa bisa dihentikan saat aku tidak bisa memberitahukanmu jika aku sedang mersakan kecemburuan.

Sebenranya Aku Sangat Ingin Kamu Menenangkan Perasaanku Saat Aku Merasa Cemburu
 
Memberitahukanmu jika aku sedang mersa cemburu sebenarnya aku juga sangat ingin kamu menenangkan hatiku, meyakinkan hatiku bahwa kecemburuan itu tidak benar dan dihatimu hanya ada aku saja. Aku sangat ingin kamu mengatakan hal itu jika aku sedang merasakan kecemburuan.
 http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/cemburu-itu-sulit-untuk-dijelasin.html

Kalau Tidak Benar-benar Mencintaiku Tolong Jangan Beri Aku Harapan

Bagimu mencintai mungkin adalah sesutu yang sederhana tapi aku tidak seperti mu bagiku mencintai seseoran itu tidak sederhana dan tidak sesederhana seperti kamu mencintai diriku atau mungkin orang lain. Bagi kua atau mungkin bagi sebagian besar wanita ini segala sesuatu yang dilakukan pada pria itu adalah bentuk dan wujud dari cinta mereka pada orang yang dicintai. 


Banyak wanita termasuk diriku berbuat baik memang karena pada dasarnya ingin membantu, tapi baik karena benar-benar ingin membantu dan baik karena cinta itu berbeda. Memperlakukan orang karena cinta dan rasa kemanusian itu tetap berbeda dan dapat diberbedakan. Padamu aku baik karena memang atas dasar kemanusian dan atas dasar aku mencintai kamu tapi pada mereka aku baik bukan karena cinta hanya atas dasar kemanusian.


Tidak bisakah kamu membedakannya? Atau mungkin kamu sebenarnya tau tapi pura-pura tidak tau karena mersa butuh pada ku atau karena ingin mepermainkanku. Padamu jika memang kau tak benar-benar mencintaiku tolong jangan beri harapan apapun padaku.

Aku Butuh Kejelasan Tentang Hubungan yang Sedang Kita Jalani
 
Selalu bersama dan merasa bahagia disampingmu rasanya tidak cukup bagiku sebelum aku tau apakah kamu sama sepertiku menginginkan kamu sampai kita bisa membangun keluarga kecil yang akan membuat kita tertawa bahagia dan sedih bersama.

Sikapmu Membuatku Memaknai Kamu Masih Menginginkanku
 
Jika kamu masih sama memperlakukanku dengan baik dan penuh perhatian itu tetap saja membuat diriku memaknai kamu tetap memberi harapan padaku. Aku tidak bisa mundur dari mencintai kamu jika kamu masih bersikap baik padaku.

Beritahu Aku Jika Hubungan Kita Akan Ada Masa Berakhirnya
 
Tak bisa mundur dari mencintai kamu itu tidak berarti aku tidak bingung dan bimbang dan bertanya-tanya apakah hubungan kita akan selamanya berjalan seperti ini atau berakhir dengan baik.

Jangan Ajak Aku Membayangkan Bahagia Jika Pada Akhirnya Tidak Bersama Kamu
 
Kau menjanjikan aku bayangan-bayangan bahagia, mengajakku bermimpi tentang banyak keindahan di masa depan tapi mengapa kau tak pernah berani dimana sebenarnya kamu berdiri. Aku tidak tau ajakanmu melihat kebahagian itu apakah hanya sekedar mengelabuhiku agar tak bertanya mengenai hubungan kita yang masih abu-abu.

Butuh Kejelasan Itu Tidak Berarti Kita Harus Segera Menikah
 
Mengapa takut untuk memperjelas untuk mengatakan ‘aku ingin menikahimu’, mengapa takut untuk ku pertemukan dengan keluargaku? Meraka tidak akan memaksamu sesegera mungkin menikahiku.
 http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/kalau-tidak-benar-benar-mencintaiku.html

Aku Bahkan Takut Menyakiti Kamu, Tapi Mengapa Kamu Memanfaatkan Cintaku

Aku tidak tau apa salahku pada kamu, aku tidak tau apa dosaku padamu. Yang aku tau aku jatuh cinta padamu, yang aku tau aku merasa nyaman bersamamu berbagi dengan mua. Tapi mengapa kamu begitu menakutkan, mengapa hatimu sekeras batu, mengapa hatimu tidak melunak dengan kebaikan dan ketulusan cinta yang aku berikan. 

Mengapa besar cinta dan ketulusanku untuk kamu bukan membuatmu iklas mencintaiku dan nyaman ada bersamaku. Kubantu sama-sama membangun masa depan mengapa malah membuatmu semakin sadis menyakitiku. Padahal selama bersama mu aku selalu mencoba mengerti, mencoba mengalah dan selalu mengerti kamu karena aku takut aku akan menyakiti perasaan mu.


Cinta Itu Menyakitkan Sebesar Aku Menginginkan Kamu
 
Tidakku sangka jatuh cinta pada mu itu menyakitkan, aku juga ak.tak pernah menyangka jika pada akhirnya aku akan sesakit ini karena menicintai kamu. Aku mengira pada akhirnya aku akan bahagia karena selama ini sekalipun kamu tak pernah menyakitiku. Tapi kenapa pada akhirnya kamu dengan mudahnya berpaling dengan mudahnya menyakiti.


Jatuh Cinta Padamu Aku Bahkan Sampai Lupa Pada Diriku Sendiri
 
Aku sibuk memperjuankan kamu dan masa depanmu, ku bantu kamu menata masa depanmu sendiri agar menjadi mapan, sampai-sampai aku lupa masa depanku. Kubantu kamu bangkit kembali dari setiap kegagalan yang kamu hadapi, aku bahkan berpura-pura tegar dan mengajakmu semangat kembali meski sebenarnya aku tidak yakin. Sengaja ku buat waktuku untuk lebih banyak bersamamu agar kamu tidak merasa terpuruk. Demi kamu bahkan aku rela meninggalkan keluarga dan teman-temanmu. Demi membantumu sengaja aku tak melakukan hal-hal yang ku suka karena ku pikir masa depanmu juga untukku.


Tak Ku Sangka Kamu Adalah Orang Jahat yang Mendebarkan Jantungku
 
Rupanya kamu hanya menggunakan topeng cinta untuk mendapatkan banyak hal yang menguntungkan bagi hidupmu. Rupanya kamu adalah orang jahat yang mampu berwajah manis. Tapi entahlah mengapa aku bisa tidak tau dan tak dapat melihatnya, entahlah aku juga tidak dapat mengira mengapa hatiku berdegub kencang saat melihatmu sampai-sampai sedikitpun bahkan untuk berhayal sesuatu yang buruk tentang kamu itu tidak pernah muncul dalam pikiranku.

Ternyata Kamu Masih Tidak Tau Cinta, Kamu Hanya Tahu Dirimu
 
Keliru sungguh aku keliru menyangka kamu adalah orang yang baik hati yang benar-benar mendekati diriku karena cinta, bukan karena apa-apa yang ada pada diriku. Kamu tidak pernah melihat cinta dalam diriku kamu hanya ingin memanfaatkan cintaku untuk dirimu. Kamu tidak pernah peduli dengan diriku kamu hanya peduli akan dirimu dan masa depanmu.

Aku Banyak Memberi Tapi Aku Tidak Menerima Apa-apa
 
Aku sadar dan pada akhirnya aku mulai banyak berhitung sudah berapa banyak yang telah aku berikan pada dirimu untuk membahagiakan kamu. Bukan hanya uang yang kubuang sia-sia kuberikan pada kamu, aku bahkan banyak membuang waktuku untuk melakukan banyak hal yang tidak kudapat untuk diriku sendiri. Aku banyak membuang banyak kesenangan dan ke sukaan ku untuk kuberikan pada kamu. Dasar memang kamu yang tak tidak pandai bagaimana harus berterimakasih.

 Sumber : http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/aku-bahkan-takut-menyakiti-kamu-tapi.html

Pergilah dan Berlalu. Kesetiaanku Terlalu Berharga untuk Pengkhianat Cinta Sepertimu

Kemana saja kamu selama ini? Setelah semua kekacauan yang kamu perbuat dengan mudahnya kamu menghilang tanpa jejak, tak ada kata maaf terucap untuk semua khilaf. Lalu setelah semua berhasil aku perbaiki dan kumulai mempercayakan diri untuk jatuh cinta lagi pada sosok lain tanpa malu, kau malah kembali. Kau kembali dengan alasan telah menyesali semua perbuatan dimasa lalu. Katamu, kau masih mencintaiku. 

Katamu kau tak bisa hidup tanpaku, tapi sampai detik ini kau masih saja hidup dengan baik-baik saja bukan? Dimana semua kata-kata yang kau ucapkan? Berjanji tak akan melukai dan mengkhianati. Tapi nyatanya kau bermain api dibelakangku. Dia kah yang lebih baik dariku? Dia kah yang kau sebut lebih mengerti kamu? Lalu kenapa kau sekarang datang lagi dengan menyesali semua perbuatanmu.



Dengarkan aku! Sekali lagi dengarkan baik-baik kataku! Tidak ada yang bisa dibenarkan dari semua perbuatanmu, terlebih kau memilih untuk berselingkuh dibelakangku, berbagi cinta dan mengkhianati aku. Tak cukupkah aku bagimu? Tak pantaskah aku mendapatkan kesetiaan darimu?
 
Telah kuserahkan semua yang menjadi milikku, bahkan hatiku telah kurelakan rapuh karenamu. Mataku tak pernah sekalipun berpaling memandang selain kamu, telinga ini tak pernah untuk mendengarkan selain suaramu, tanganku pun tak pernah menggenggam selain tanganmu. Namun aku tak bisa paksa kamu tuk tinggal di sisiku, kamu yang telah siksa aku dengan segala perbuatanmu.


Pergilah, pergi jangan lagi kau sesali yang terjadi karena aku bisa tanpa kamu. Tak usah kau ragu, aku rapuh tanpamu. Tapi bersamamu pun aku tak mampu jika masih saja kau berselingkuh.

Jadi lupakan aku, bawa kembali semua sesalmu dan ribuan maaf dari mulutmu. Aku ingin lebih baik tanpa kamu. Jangan lagi kau tawan hatiku, aku bukanlah budak cintamu. Bebaskan aku, biarkan aku kembali menemukan cinta selain kamu. Karena kau tak pantas bagiku.

Kesetiaanku terlalu berharga untuk pengkhianat cinta seperti kamu. Aku tak perlu lagi semua penjelasan darimu, karena semuanya sudah berlalu. Sudah ku maafkan semua kesalahmu, pergilah jangan ganggu aku.

Kini telah kutemukan dia sebagai penggantimu, dia yang mampu berjuang untukku, dia yang mampu meredakan luka hatiku karenamu. Dan dia bukanlah kamu, dia tak pernah berjanji untuk tidak melukaiku, dia juga tak pernah bersumpah mati untukku, bahkan dia tak mampu membawakan rembulan ke hadapanku. Tapi setidaknya dia tak sepengecut kamu, yang berani pergi membagi hati dan tega melukai. Dia tak sepertimu, semoga tak sepertimu.
 Sumber : http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/pergilah-dan-berlalu-kesetiaanku.html

Jarak Bukanlah Halangan Bagi Kita yang Punya Alasan untuk Bertahan

Aku meletakkan cangkir putih bercorak bunga sakura itu dan memandang ke arahmu yang sedang sibuk berkutat dengan laptop. Wajahmu terlihat sangat serius sembari membaca setiap email yang masuk. Berpikir sebentar lalu jari-jemarimu mulai merangkai kata. Sebuah senyuman kecil tersimpul di bibirku. Aku membatin dalam hati. Betapa tingginya tuntutan pekerjaanmu tidak menghalangimu untuk terbang menghampiriku di sini. Lalu, aku kembali menyeruput teh yang masih terasa hangat-hangat kuku itu. 
Tak lama kemudian, kamu menutup laptop dan melayangkan senyum lebar kepadaku diiringi dengan sebuah rangkulan kecil pada pundakku. Percakapan untuk saling bertukar rindu pun kembali dilanjutkan. Tatapan mata dan sentuhan yang tak dihalangi oleh jarak. Pertemuan yang setiap hari selalu aku nantikan.

Perjalanan asmara kita jelas memupuk rindu yang tak berkesudahan. Banyak tantangan yang mencoba keras untuk mendobrak masuk, menyelinap ke dalam, dan mengutak-atik kontak rasa antara kita. Sederet pengorbanan dan perjuangan terpatri hampir di setiap alurnya. Tapi, toh, kita tetap bertahan.


“Perjalanan ini memang tidak mudah. Tapi, hubungan ini memberikan pelajaran yang bermakna untuk kita.”

Kepercayaan menjadi tonggak utama yang menopang beratnya bentangan jarak antara kita.
Apa yang sedang kamu lakukan di sana? Dengan siapa kamu pergi? Aku hanya bisa berpegang pada setiap kata yang kamu utarakan. Ya, hanya itu saja. Begitu pun sebaliknya.

Kepercayaan merupakan fondasi dasar bagi kita untuk membangun hubungan ini dari bawah. Tanpa kepercayaan, semua ini tidak akan ada artinya.

Aku tak akan berbohong. Puluhan kali rasa curiga menyelimuti hatiku. Keraguan atas ucapan yang kamu sampaikan. Ketidakyakinan atas fakta yang tidak dapat aku lihat. Semua itu aku alami.

Tapi, percuma saja hidup dengan penuh ketakutan, bukan? Tak ada gunanya memelihara pikiran negatif dan membiarkan diri ini dilingkupi oleh kekhawatiran yang belum tentu benar. Jadi, tak perlu aku berasumsi dan menebak-nebak sesuatu yang tidak pasti. Karena segala sesuatunya akan terbukti sendiri suatu saat nanti. Saat ini, aku hanya perlu percaya saja.


“Membangun kepercayaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan menghancurkan kepercayaan itu hanya sesingkat sebuah kejapan mata.”

Sesibuk apapun aktivitas kita, komunikasi tetap harus terjaga. Hal inilah yang akan memperkokoh rasa antara kita.
 
 
Perbedaan aktivitas yang dijeda oleh jarak menjadikan komunikasi bukanlah perkara kecil. Ya, benar. Urusan sesederhana saling bertukar kabar bisa menjadi pemicu perselisihan yang berujung besar. Kesalahpahaman itu ibarat hal yang sudah lumrah terjadi.

Namun, aku dan kamu tetap harus saling mengerti. Toleransi dan saling menghargai perlu dijunjung tinggi. Segala ganjalan yang menggantung di dalam hati akan kita sampaikan dengan kepala dingin. Saling berdiskusi dan memahami keinginan masing-masing demi mencapai titik temu yang kita sepakati.

Karena kita sama-sama belajar. Komunikasi penuh emosi tidak akan membuahkan hasil yang kita kehendaki. Kita perlu bersabar dan tetap menjaga perasaan masing-masing pribadi.
“Komunikasi itu ibarat oksigen dalam sebuah hubungan. Karena kepercayaan dapat hidup jika ada komunikasi yang terbina dengan baik.”

Walau masalah datang silih berganti, tapi komitmen yang sama membuat kita tidak menyerah dan berhenti.
 
Selalu ada pengorbanan. Selalu ada perjuangan. Ini memang tidak mudah. Tapi, menjalaninya bersamamu tidak membuat hubungan ini terasa begitu berat.

Kita berselisih, kita berdebat. Ada kalanya pula aku merasa gerah. Hubungan yang minim kontak langsung ini tentu menyimpan segudang tantangan.

Tapi, kita tidak menyerah. Karena komitmen yang sama menjadi tempat kasih kita bermuara dan tempat kaki kita kembali berpijak. Kita tahu ada sesuatu yang akan kita tuju di akhir jalan ini.

“Kesamaan visi dan misi yang telah kita rajut bersama dari awal. Komitmen inilah yang menjadi benang inti dalam hubungan kita.”
 
 
Kita menghentikan langkah kaki kita di sini. Kamu berdiri menghadapku dan menatap lekat mataku. Ada sesuatu yang tersirat dari caramu memandangku. Aku memahaminya tanpa perlu ada translasi ke dalam kata. Kita berbincang singkat dan saling memberikan pelukan hangat. Lalu, kamu membalikkan badan dan mulai berjalan menarik kopermu, menjauhi tempatku berdiri dalam diam.

Aku hanya mampu menatap punggungmu. Aku menghela napas dan tersenyum. Jarak dan waktu kembali menjadi penghubung antara kita. Rindu kembali menjadi penghias kisah kita.
 
Kejujuran dan kesetiaan kita sedang diuji saat ini. Tapi, aku akan bersabar. Hingga nanti saatnya semesta menyatukan kita.

"Sebab ini bukan hanya soal rasa yang membuncah dari dalam dada. Namun, juga soal cita yang ingin kita perjuangkan bersama. Bukankah begitu, sayang?”
 
 Sumber : http://tagihjanji.blogspot.co.id/2016/10/jarak-bukanlah-halangan-bagi-kita-yang.html
Senin, 17 Oktober 2016

100.000 Homestay Jadi "Trending Topic" di PBB

100.000 Homestay Jadi "Trending Topic" di PBB

JAKARTA - Tema yang paling heboh dalam pertemuan di markas UNWTO, Lembaga PBB bidang Pariwisata Madrid, Spanyol itu rupanya soal homestay.

Dari tiga inisiatif Menpar Arief Yahya yang dikupas tuntas dari sisi strategi, Go Digital, Homestay, dan Sustainable Tourism Certification (STC).

Justru soal homestay yang mendapat respons serius.Terutama setelah mendengar paparan akan dibangun 100.000 homestay hinggal 2019 dan akan dimulai 2017 di Indonesia!

"Apakah pemerintah ikut mengatur regulasi mereka? Bagaimana dengan pajak? Siapa yang menginspeksi? Bagaimana menjaga persaingan tetap sehat? Hati-hati dengan pelaku industri existing, yang sudah ada? Di banyak negara, menambah jumlah atau kapasitas kamar atau hunian di satu destinasi justru menaikkan tensi bisnisnya?" kata Taleb Rifai, Sekjen UNWTO mengingatkan.

Mr. Carlos Vogeler, Executive Director for Member Relations yang warga kenegaraan Spanyol juga memberi catatan.

"Ini bertolak belakang dengan Go Digital yang dipresentasikan sebelumnya. Go digital itu sangat modern, maju, progresif dan menjemput pasar masa depan. Sedangkan Homestay itu lebih ke traditional market? Pasar masa lalu?" kata Carlos.

Lain lagi sorotan dari Mr Márcio Favilla, Executive Director for Operational Programmes and Institutional Relations yang berasal dari Brazil itu.

"Homestay mungkin hanya cocok untuk domestik market, bukan untuk international market?" cetus Márcio yang pernah menjadi Walikota Brazil itu.

Cukup sengit serangan soal homestay yang dibawa Menpar Arief Yahya di forum PBB itu.
Tetapi justru dari situ, mendapat semacam "early warning" atau yang biasa disebut critical success factors yang bermanfaat.

Yang sudah diantisipasi Arief Yahya adalah faktor budgeting, bagaimana menciptakan 100.000 homestay di 10 top destinasi wisata yang sudah ditetapkan Presiden Joko Widodo.

Dia menyebut ini sebagai sharing economy, membangun community based di sektor pariwisata.
Melibatkan masyarakat untuk bekerjasama, mendapatkan benefit, menjaga ekosistem dan hospitality. Masyarakat juga bisa menghidupkan tradisi dan budaya yang akan menjadi atraksi baru.


Menpar menyebut, peran pemerintah adalah membantu permodalan.
Yang biasanya bunga 12%, tapi di homestay cuma 5%, dengan masa tenor 20 tahun, dan uang muka 1% saja.

Perbedaan dengan harga pasar itulah yang ditanggung pemerintah.

Pemerintah juga mewajibkan bentuk bangunan homestay menggunakan arsitektur nusantara.
Setiap daerah akan berbeda, karena Indonesia itu luas, panjang, lebar, pulau-pulau, bersuku-suku, ini akan menjadi kekuatan atraksi tersendiri.

25 Oktober 2016 nanti akan diumumkan pemenang lomba desain arsitektur nusantara dengan rekor jumlah peserta 728 design.

"Kami ingin mengembalikan arsitektural tradisional yang khas dan saat ini sudah banyak yang hilang," kata Menpar Arief Yahya.

Jadi atmosfer kalau ke Borobudur, sudah terasa sejak belokan menuju ke Kota Mungkit, Magelang.
Gapura batu-batu, pagar, pintu, bentuk atap, model rumah, dan sebagainya.

"Bulan ini sudah akan ada pemenang-pemenang lomba desain homestay-nya," jelasnya.
10 destinasi prioritas akan didahulukan, tetapi daerah lain yang punya potensi dan membutuhkan homestay juga akan diakses.

Ke-10 Bali Baru itu antara lain: Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang - Belitung, Tanjung Lesung - Banten, Kep Seribu Dan Kota Tua - Jakarta, Borobudur - Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru - Jawa Timur, Mandalika-Lombok NTB, Labuan Bajo NTB, Wakatobi - Sultra dan Morotai - Maltara.
Bagaimana dengan regulasi? Hospitality? Standart layanan dan quality control?

"Kami mempersiapkan tim yang bekerja untuk itu di bawah Pokja Percepatan 10 Bali Baru. Tentu pemilik homestay akan dibekali pengetahuan, sampai ke pencatatan, laba rugi, keuangan yang sederhana. Soal SDM ada deputi Kelembagaan dan SDM, sampai 2019 akan mencetak 500 ribu tenaga kerja pariwisata baru untuk mempersiapkan target 20 juta wisman di 2019," ungkapnya.

Akhirnya Sekjen Taleb Rifai pun memahami dan percaya akan keseriusan Menpar Arief Yahya.
"Homestay juga bisa dikemas menjadi atraksi destinasi yang menarik. Saya percaya kedekatan dengan budaya lokal, tradisi masyarakat, kehangatan people to people relations, itu semua bisa menjadi atraksi pariwisata," tutup Taleb

Di ujung presentasi, Menpar Arief Yahya meminta kembali UNWTO mengawal dan memfasilitasi pengembangan STO itu menjadi STC, sustainable tourism certification.

Kemenpar bahkan sudah mengeluarkan Keputusan Menteri No. 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Tujuan Wisata berkelanjutan.

UNWTO Pun langsung ok, karena itu adalah concern dunia.

Di markas UNWTO Madrid, delegasi Kemenpar RI yang mendampingi Menpar Arief Yahya adalah Yuli Mumpuni Widarso, Dubes RI untuk Spanyol yang juga perwakilan RI di UNWTO, Don Kardono, Stafsus Menpar Bidang Media, Giri Adnyani, Sesdep Pemasaran Mancanegara Kemenpar, Nia Niacaya, Asdep Pengembangan Pemasaran Wilayah Eropa Timur Tengah, Afrika dan Amerika, Ronald Pantun Mariso, Setmenpar dan Kurniawan, Staf KBRI Madrid.( TribunNews )
Kamis, 13 Oktober 2016

Menyebalkan Tapi Ngangenin Ketika Kamu Jauh dari Rumah

Bagi kalian yang merantau untuk bekerja atau kuliah di luar kota, tentunya pernah merasakan home-sick. Mungkin awalnya kalian akan merasa senang karena akhirnya bisa bebas bisa melakukan apa saja, tanpa ada yang ngomelin. Apalagi untuk membuktikan pada orang tua bahwa kita dapat hidup mandiri.

Namun, tidak bisa dipungkiri rasa kangen rumah dan keluarga pasti akan muncul ketika status anak rumah berubah menjadi anak kost. Nah, berikut ini adalah beberapa hal yang dulunya terasa sangat menyebalkan, tapi sekarang malah bikin kamu kangen.


1. Dipaksa bangun pagi agar tidak terlambat melakukan aktivitas.

Siapa disini yang susah banget dibangunin? Kebayang dong betapa menyebalkannya mendengar teriakan orang tua yang membangunkan kita di pagi hari? Rasanya berat untuk bangkit dari tempat tidur. Namun, setelah kamu tinggal sendiri, kamu hanya bisa mengandalkan alarm yang berbunyi nyaring. Kalau gak kedengaran, kamu bakalan bernasib telat sampai di kantor atau kampus.

2. Berantem dengan kakak atau adik dan suasana rumah yang sepi sangat jarang kamu jumpai.

Bagi kalian yang punya kakak atau adik, pasti ada saja hal yang bikin kalian berantem. Umumnya yang dipermasalahin adalah hal-hal kecil. Rebutan remote TV, minjam barang tanpa permisi, ngilangin barang, dan berbagai hal lainnya. Walaupun ketika bertemu tidak pernah akur, tapi ngaku deh, kamu pasti kangen sama suasana rumah yang tidak pernah sepi itu.

3. Nemanin orang tua belanja.

Nemanin orang tua belanja memang melelahkan, apalagi kalau sudah belanja bulanan, pasti deh lamanya bukan main. Kamu harus siap menahan kaki yang pegal karena harus ngikutin nyokap yang mencari barang-barang yang diperlukan. Belum lagi dengan tawar-menawar yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Tapi momen-momen seperti ini nih yang membuat kamu semakin dekat dengan orang tua. Ditambah, kamu tidak perlu khawatir dompet menipis kalau ikutan belanja. Apalagi makan pasti dibayarin orang tua. Coba sekarang, harus cek dompet dan tanggal dulu untuk bisa bebas berbelanja.

4. “Anterin mama arisan yah!”, “Jangan lupa jemput adek di sekolah yah!”. Jangan harap kamu bisa santai-santai di rumah. Karena kamu akan jadi supir keluarga.

Lagi mau nyantai di rumah, eh malah disuruh antarin nyokap arisan atau ngantarin adik les yang jauhnya bukan main. Memang paling malas kalau sudah disuruh jadi supir, apalagi mengingat jalanan yang selalu macet, pasti rasanya tidak ingin keluar rumah.

Tapi kalau dipikir-pikir, waktu di jalan adalah waktu untuk saling menanyakan kegiatan, curhat dengan adik/kakak, atau malah selfie bareng kalau lagi macet. Mengingat semuanya punya kesibukan masing-masing, moment seperti ini akan membuatmu melupakan padatnya jalanan yang akan ditempuh.

5. Yang terpenting, akhirnya kamu bisa melepas rindu dengan kumpul bareng keluarga.

Terkadang kita lebih memilih untuk nongkrong dengan teman-teman, daripada ngumpul bareng keluarga. Sering sekali kita diomelin karena lebih sering di luar daripada di rumah. Ujung-ujung malah bohong dengan alasan ada kerja kelompok biar diizinin pergi.

Mungkin dulu kamu mencari berbagai cara untuk menghindari kumpul keluarga, tapi kalau sudah ngerasain harus nunggu waktu liburan tiba baru bisa pulang ke rumah, pasti kamu tidak akan mensia-siakan waktu bersama keluarga. Rasanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

idntimes.com

Terima Kasih untuk Jarak dan Waktu yang Mengajarkan Cinta dan Rindu

Adakalanya jarak dan waktu menjadi dua hal yang menyesakkan dan melelahkan. Begitu juga yang terkadang kami rasakan, ketika dua orang yang saling mencintai harus menerima takdir bahwa jarak pandang mata kami terentang ratusan kilometer jauhnya.

Lima tahun kami harus meredam rindu, berusaha melipat jarak dengan surat-surat juga puisi-puisi yang setiap katanya dipetik dari mimpi dan imajinasi. Kemudian kami pun menyadari sesuatu, bahwa ternyata memang selalu ada rindu yang harus menunggu....


Tak ada yang bisa kami lakukan selain saling menguatkan, meski seringkali juga ada tangis keputusasaan. Kami memang harus bersabar pada waktu, juga jarak yang menebar rindu.

Kata orang, pasangan yang menjalani kasih jarak jauh memiliki cinta yang tangguh. Kami tak tahu apakah itu benar ataukah tidak, kami menganggapnya sebagai doa bahwa kami bisa tetap tegak berdiri ketika badai benar-benar menghampiri

Ada ratusan mimpi yang kami bagi bersama, dan ribuan harapan yang akan kami perjuangkan. Tentang rumah penuh buku-buku, tentang puisi-puisi dan cerita yang tersebar ke seluruh dunia, juga tentang anak-anak lucu yang akan kami besarkan bersama.

Tak sedikit orang yang ragu dengan mimpi jika kelak kami bisa bersama. Namun, kami selalu percaya bahwa Tuhan selalu berpihak pada manusia yang selalu tulus berdoa, serupa kami yang saling menyebut nama dalam doa.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalin kasih, bukan juga waktu yang lama untuk kami saling memahami dan saling mengerti, karena terkadang kami pun masih diselimuti egois diri. Seringkali kami ingin melangkah pergi dan saling meninggalkan, tapi kami selalu sadar bahwa sebuah kepergian hanya akan menciptakan luka yang dalam.

Kami sudah melewati banyak jalan, menelusuri lorong-lorong ruang waktu demi mencari tahu apa makna cinta, ketulusan, dan kesetiaan. Bukan hanya taman dengan bunga harum bermekaran yang pernah kami lalui, tapi kami juga seringkali melewati hutan sepi yang menciptakan ketakutan sehingga membuatku ingin terus berlari. Sudah tak berbilang berapa banyak luka yang sudah tersayat, juga berapa banyak air mata yang mengalir sia-sia karenanya.

Kami selalu berusaha berteman dengan hujan, juga berusaha untuk mengakrabi badai hingga terkadang kami merasa lelah jika harus berjalan lebih jauh lagi. Namun, ada satu hal yang selalu kami rapalkan seraya saling menggenggam harapan, ‘Kita akan lalui semua bersama’.

Banyak orang yang seringkali berkata sumbang tentang cinta kami, bahwa jarak akan meruntuhkan segalanya. Namun, kami berhasil melewati semua dan membuktikan bahwa kekuatan cinta dapat membuat doa kami dikabulkan Yang Kuasa.

Kami bukanlah pasangan yang sempurna, karena kami adalah sepasang puisi yang masih belajar untuk saling memahami, jika salah satu dari kami pergi, kami tinggal huruf yang kehilangan arti.

Kini, ribuan puisi dan puluhan purnama yang telah terlewati, seakan hilang arti sebab telah terlampaui sebaris kalimat janji suci. Keajaibanlah yang membuat kami betah dan terus belajar untuk bertahan, hingga garis nasib menuntun kami menuju mahligai pernikahan, dimana para malaikat menjadi saksi bahwa kami akan saling setia dan menua bersama.

Terima kasih kepada jarak dan kepada waktu yang mengajarkan kami tentang cinta dan rindu, dan terima kasih kepada Dia yang memiliki kuasa melapangkan jalan yang berliku.

idntimes.com

Bertengkar Denganmu adalah Caraku Mencintaimu Lebih Dalam Lagi

Berbeda pendapat. Berselisih paham. Bertengkar karena hal-hal yang sebenarnya sepele. Berdebat karena satu masalah kecil. Semua itu bisa terjadi dalam sebuah hubungan.

Mustahil rasanya tak ada konflik dalam sebuah hubungan. Tapi akan terasa janggal jika hubungan itu tak memiliki riak-riak kecil. Kamu pun pasti pernah mengalami saat-saat di mana kamu merasa marah dan jengkel setengah mati dengan suamimu. Atau ada masa-masa kamu dan dia saling diam.


Pertengkaran dalam sebuah hubungan sulit untuk dihindari atau dielak. Seringkali akan ada hati yang terluka dari sebuah pertengkaran. Hanya saja di satu sisi, pertengkaran juga bisa makin merekatkan pasangan.

Bertengkar, Temukan Masalahnya, Cari Solusinya

Susah pasti rasanya untuk terus memendam emosi dan perasaan. Kamu atau pasanganmu mungkin akan meledak dibuatnya. Pertengkaran pun terjadi. Tapi dari situ, setelah mengungkapkan emosi dan amarah masing-masing, kita bisa lebih mudah mendeteksi masalah yang sebenarnya.

Saat masalah itu sudah ditemukan, beri jeda untuk bisa berdamai dengan perasaan masing-masing. Baru kemudian carilah solusinya bersama-sama.

Mengenal Karakter

Karakter seseorang bisa terlihat ketika ia sedang marah. Bagaimana ia merespon sebuah masalah. Caranya mengutarakan perasaannya saat marah. Itu semua bisa mengungkap karakter atau sisi pribadinya yang lain.

Kamu bisa mengenal pribadinya lebih dalam dari caranya marah. Kamu akan tahu dirinya apa adanya ketika sedang bertengkar. Asal tentu saja, sesudah bertengkar, kamu dan pasangan bisa sama-sama kembali berpikir jernih. Tak egois dengan perasaan pribadi.

Bertengkar untuk Jujur

Bertengkar jadi tanda kalau ada sesuatu yang sedang kamu perjuangkan bersama pasanganmu. Ada sesuatu yang segera diperbaiki agar hubungan bisa lebih baik ke depannya. Bertengkar pun jadi cara untuk bersikap jujur satu sama lain. Tak menyembunyikan rahasia apalagi menyimpan dendam.

Mencintainya Lebih Dalam Lagi

Ibarat badai yang akhirnya memunculkan pelangi, kamu akan menemukan warna baru dalam hubunganmu. Dari sebuah pertengkaran, kamu bisa lebih memahami perasaan pasanganmu. Dan pada akhirnya kamu bisa mencintainya lebih dalam dari sebelumnya. Kamu akan lebih menghargai masa-masa indah yang kamu jalani bersamanya.

Sesekali bertengkar dengan pasangan memang lumrah terjadi. Tapi jangan sampai kamu dan pasanganmu malah mementingkan ego pribadi masing-masing. Kalau masih saja egois dan merasa menang sendiri, sebuah pertengkaran bisa makin memperburuk hubunganmu.

vemale.com